Negosiasi yang difasilitasi oleh Oman dan Qatar dilaporkan masih berlangsung di belakang layar. Namun, belum ada kesepakatan yang dicapai hingga saat ini.
Pernyataan Khamenei pada Selasa lalu menambah ketegangan dalam proses negosiasi. Dengan mengatakan bahwa AS tidak akan memiliki tempat aman di kawasan, Iran seolah menutup pintu bagi kompromi.
Di sisi lain, AS mungkin akan meningkatkan tekanan militer sebagai respons. Beberapa kapal induk AS telah dikerahkan di perairan Teluk sejak awal konflik.
Masyarakat internasional khawatir bahwa konflik ini dapat meluas menjadi perang regional yang lebih besar. Negara-negara seperti Arab Saudi dan Turki telah meningkatkan kewaspadaan militer mereka.
PBB telah memperingatkan bahwa perang ini dapat menyebabkan bencana kemanusiaan yang lebih parah. Jutaan orang telah mengungsi akibat pertempuran di Iran, Irak, dan Israel.
Pernyataan Khamenei juga dapat mempengaruhi harga minyak global. Timur Tengah adalah pemasok utama minyak dunia, dan ketidakstabilan di kawasan selalu berdampak pada pasar energi.
Harga minyak mentah telah melonjak sejak dimulainya perang, dan pernyataan terbaru Khamenei berpotensi mendorong harga lebih tinggi lagi.
Negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia, akan merasakan dampaknya.
Namun, hingga saat ini, belum ada indikasi bahwa negara-negara Teluk akan mengubah kebijakan mereka. Mereka tetap menjalin hubungan diplomatik dan militer dengan AS, meskipun ada tekanan dari Iran.
Beberapa analis berpendapat bahwa pernyataan Khamenei lebih bersifat retoris untuk konsumsi domestik. Dengan memperkuat citra anti-AS, ia berusaha mempertahankan dukungan rakyat di tengah perang yang berkepanjangan.
Terlepas dari itu, pesan Khamenei jelas: Iran tidak akan mentolerir kehadiran militer AS di kawasan setelah perang berakhir.
Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang masa depan pangkalan-pangkalan AS di Teluk.
Pangkalan-pangkalan seperti Al Udeid di Qatar, Al Dhafra di UEA, dan pangkalan angkatan laut di Bahrain selama ini menjadi tulang punggung operasi militer AS di Timur Tengah.
Kehilangan akses ke pangkalan-pangkalan ini akan memaksa AS untuk mengubah strateginya secara drastis.
>>> Militer AS Lakukan Serangan 'Bela Diri' di Iran, Targetkan Situs Rudal
Namun, untuk saat ini, pernyataan Khamenei belum diikuti dengan tindakan diplomatik atau militer yang konkret. Dunia masih menunggu perkembangan selanjutnya dari konflik yang telah menelan banyak korban ini.