unique visitors counter
⌂ Beranda › IPTEK › AI Percepat Serangan Siber, CrowdStrike Sebut Industri Keuangan dalam Bahaya
IPTEK

AI Percepat Serangan Siber, CrowdStrike Sebut Industri Keuangan dalam Bahaya

Ilustrasi serangan siber dengan AI pada industri keuangan
Ilustrasi serangan siber. [Pixabay]
A A Ukuran Teks16px

CrowdStrike mengungkap ancaman serius terhadap industri keuangan global dalam Laporan Lanskap Ancaman Jasa Keuangan 2026.

Perusahaan keamanan siber itu mencatat peretas Korea Utara mencuri aset digital senilai lebih dari 2 miliar dolar AS (sekitar Rp33 triliun) sepanjang 2025.

Kecerdasan buatan (AI) kini menjadi senjata utama pelaku kejahatan siber. AI digunakan untuk mempercepat serangan, menyamar sebagai identitas tepercaya, dan menembus sistem pertahanan organisasi keuangan.

Serangan ke Lembaga Keuangan Melonjak 43 Persen

CrowdStrike mencatat serangan langsung terhadap institusi keuangan meningkat 43 persen secara global dalam dua tahun terakhir. Di Amerika Utara, lonjakan mencapai 48 persen.

Pelaku ancaman memanfaatkan identitas digital yang tampak sah, layanan cloud, dan aplikasi SaaS untuk menghindari sistem keamanan tradisional.

Sektor jasa keuangan menjadi salah satu target utama dari lebih dari 280 kelompok ancaman siber yang dipantau CrowdStrike.

Selain Korea Utara, aktivitas spionase siber terkait China juga meningkat signifikan. Mereka menyasar lembaga keuangan di berbagai negara, termasuk Indonesia dan Brasil.

Korea Utara Catat Rekor Pencurian Kripto

Nilai pencurian aset digital oleh kelompok peretas Korea Utara meningkat 51 persen dibanding tahun sebelumnya, mencapai total 2,02 miliar dolar AS pada 2025.

Kelompok PRESSURE CHOLLIMA bertanggung jawab atas pencurian kripto terbesar senilai 1,46 miliar dolar AS melalui malware trojan yang disebarkan lewat celah keamanan rantai pasok perangkat lunak.

Sementara itu, GOLDEN CHOLLIMA menggunakan modus perekrutan kerja palsu untuk mengelabui korban. Mereka mengakses lingkungan cloud dan mencuri dana kripto dari perusahaan fintech di Asia Tenggara serta Kanada.

CrowdStrike juga menemukan bahwa kelompok peretas Korea Utara semakin agresif memanfaatkan teknologi AI untuk memperluas operasi mereka.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru