Film animasi Korea terbaru berjudul "Pilgrims" mengangkat pertanyaan mendasar: apa artinya meninggalkan dunia tanpa kesedihan, penyakit, atau patah hati?
Apakah surga seperti itu layak untuk dipertahankan?
>>> SpongeBob SquarePants Rilis Season 17 di 2026, Begini Jadwalnya
Diadaptasi dari cerpen Kim Cho-yeop yang telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, film ini berpusat pada sekelompok anak muda yang meninggalkan planet utopia yang dirancang tanpa rasa sakit.
Mereka memilih kembali ke Bumi yang penuh kekurangan dan menghadapi konsekuensi emosional dari kehidupan tanpa penderitaan.
Latar Belakang dan Antusiasme
Dalam beberapa tahun terakhir, fiksi ilmiah Korea, khususnya karya penulis perempuan seperti Kim, semakin diakui karena menyoroti isu kepedulian, perbedaan, dan batas kemajuan.
Alih-alih berfokus pada penjelajahan galaksi, karya-karya ini lebih menekankan hubungan, kerentanan, dan ambiguitas etis dari "perbaikan."
Buku kumpulan cerpen Kim, "If We Cannot Go at the Speed of Light," telah terjual ratusan ribu kopi di Korea dan diterjemahkan ke lebih dari 10 bahasa.
Ekspektasi lokal pun tinggi. Sesi temu penggemar bersama Kim dan pengisi suara utama habis terjual.
Tim produksi "Pilgrims" juga menjadi daya tarik tersendiri. Sutradara Heo Pyong-kang adalah veteran animasi TV Jepang.
Desainer karakter Wi Hyun-song pernah mengerjakan proyek internasional seperti "KPop Demon Hunters." Pengisi suara melibatkan aktor terkenal Kim Hyang-gi, Park Ji-hoo, dan Lee Joo-young.
Musik digarap oleh Hwang So-yoon dari Se So Neon, memberikan nuansa melankolis.
Kelemahan dalam Eksekusi
Meski fondasinya kuat, "Pilgrims" belum sepenuhnya memenuhi janjinya. Kelemahan paling jelas terletak pada sulih suara.
>>> Acer Iconia Duo S14: Tablet 14,2 Inci yang Bisa Jadi Monitor Eksternal
Partisipasi aktor film terkenal memang memberikan publisitas, namun kurangnya pengisi suara profesional terasa. Dialog sering terdengar tidak sinkron dengan gerakan bibir dan emosi karakter, sehingga mengurangi imersi.