Selama bertahun-tahun, taksi terbang hanya ada sebagai konsep futuristik. Pada 2026, industri ini akhirnya memasuki tahap awal operasi komersial.
China dan Amerika Serikat sama-sama berinvestasi besar dalam pesawat lepas landas dan mendarat vertikal elektrik (eVTOL). Namun, pendekatan kedua negara berbeda.
>>> Samsung Galaxy Z Flip8 Gunakan Exynos 2600 di Korea dan Eropa
China mendorong penyebaran dan komersialisasi cepat. Sementara itu, AS fokus pada sertifikasi, program percontohan, dan kerangka regulasi untuk pertumbuhan jangka panjang.
China Bergerak Maju dalam Operasi Dunia Nyata
China saat ini tampak memimpin perlombaan taksi terbang global. Ekonomi ketinggian rendah telah menjadi prioritas nasional strategis.
Perkiraan industri menunjukkan sektor ini bisa bernilai triliunan yuan. Salah satu pencapaian terbesar adalah kemajuan komersial pesawat penumpang otonom EH216-S.
Pesawat ini sudah melakukan uji coba operasi komersial dan penerbangan wisata di beberapa kota China. Hal ini memberi China keunggulan awal yang signifikan dalam layanan penumpang dunia nyata.
China juga memperluas kapasitas manufaktur. Pabrik pintar baru di Guangzhou diperkirakan dapat memproduksi hingga 100 mobil terbang per tahun.
Pabrik tersebut menggabungkan efisiensi produksi ala otomotif dengan standar kelas penerbangan. Pada saat yang sama, perusahaan seperti Fengfei Aviation mengembangkan pesawat yang lebih besar.
Sky Dragon adalah taksi terbang 10 penumpang yang dirancang untuk transportasi regional, bukan perjalanan perkotaan pendek.
Dengan jangkauan hibrida potensial hingga 1.500 kilometer, ini adalah salah satu proyek eVTOL paling ambisius yang sedang dikembangkan.
AS Fokus pada Sertifikasi dan Infrastruktur
Sementara China memimpin dalam penyebaran, AS tetap menjadi kekuatan utama dalam pengembangan pesawat dan teknologi mobilitas udara canggih.
>>> DJI Luncurkan Charger GaN 140W Pertama dengan Tiga Port USB-C