Proyek ini dimulai dengan Hamnyeongjeon Hall di Deoksu Palace pada 2015, lalu Jeukjodang Hall pada 2018-2021.
Restorasi kemudian meluas ke Sajeongjeon Hall di Gyeongbok Palace (2022-2024) dan kini berfokus pada Geunjeongjeon Hall.
>>> Zona Penggemar Bertema Piala Dunia Dibuka di Ttukseom Hangang Park Seoul
Kim So-young dari Arumjigi Foundation menekankan bahwa perabotan yang direstorasi bukan untuk disimpan, melainkan digunakan dan dirawat sebagaimana aslinya.
Keahlian Pengrajin Tradisional
Pameran juga menampilkan karya pengrajin yang melestarikan kerajinan tradisional Korea.
Benda-benda dibuat berdasarkan referensi dari National Palace Museum, National Museum of Korea, dan National Folk Museum of Korea.
Salah satu karya adalah tempat lilin besi bertatahkan perak buatan Choi Gyo-jun, pemegang Warisan Budaya Takbenda Seoul dalam seni tatah logam "Ipsa".
Karya tersebut direstorasi oleh muridnya, Shin Sun-yi.
Shin menjelaskan bahwa benda kerajaan yang sering disentuh lebih awet, namun karena tidak bisa dipegang bebas, risiko korosi lebih tinggi.
Ia dan gurunya merestorasi menggunakan teknik tradisional termasuk lapisan pernis.
Layar lipat "Irworobongbyeong" yang menggambarkan matahari, bulan, dan lima puncak gunung juga dipamerkan.
Layar ini direstorasi oleh pelukis Kwon Oh-chang, yang sebelumnya mereproduksi layar serupa di Gyeongbok Palace pada 1999.
Kwon mengaku kesulitan menjaga kondisi asli lukisan dari kerusakan cat dan pengelupasan.
Ia bekerja sama dengan konservator untuk memulihkan area yang pudar menggunakan pigmen mineral, emas, serta cangkang kerang yang ditumbuk halus.
Karena keterbatasan ruang, layar yang direstorasi dipajang terpisah di Dondeokjeon Hall. Pengunjung dapat melihat pameran setiap jam melalui tur berpemandu.
Pada 16 Juni, Shin Sun-yi akan membahas proses restorasi tempat lilin besi dan teknik tradisional dalam program khusus.
>>> Apakah Keripik Protein Benar-benar Ramah Diet?
Informasi tiket dapat diakses melalui situs Royal Palaces and Tombs Center.