Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran pada Rabu (11/6/2025), menargetkan sejumlah lokasi di negara tersebut.
Langkah ini diambil setelah Presiden Donald Trump memperingatkan akan adanya serangan tambahan.
>>> Trump Klaim Misi AS di Selat Hormuz Berhasil, Lewatkan 100 Juta Barel Minyak
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan dalam unggahan media sosial bahwa serangan tersebut merupakan respons atas agresi Iran yang tidak beralasan dan berkelanjutan.
Serangan ini terjadi sehari setelah AS menyerang Iran menyusul jatuhnya helikopter Angkatan Darat AS di dekat Selat Hormuz yang ditudingkan Trump kepada Republik Islam Iran.
Trump mendesak Iran untuk menandatangani kesepakatan guna mengakhiri perang.
Sebelumnya, militer AS juga menembaki sebuah kapal tanker minyak yang mencoba mengangkut minyak dari Iran, melanggar blokade yang diterapkan AS di pelabuhan Iran.
Serangan Baru dan Dampaknya
Militer AS mengatakan serangan pada Rabu menargetkan sistem pertahanan udara, stasiun kendali darat, dan radar pengawasan.
Iran melaporkan bahwa serangan AS menghantam dua reservoir air di kota Sirik, selatan Iran, yang menyebabkan pemutusan pasokan air sementara bagi ribuan warga.
Teheran kemudian mengklaim adanya serangan di Kuwait, Bahrain, dan Yordania.
Yordania mengatakan berhasil menembak jatuh lima rudal yang masuk, sementara Bahrain dan Kuwait mengaku mencegat tembakan yang datang.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengecam serangan AS sebagai pelanggaran kedaulatan Iran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmail Baghaei mengatakan dalam pernyataan yang disiarkan televisi bahwa Iran akan meninjau kembali sikapnya terhadap negosiasi untuk mengakhiri perang setelah serangan baru ini.
>>> AS Setujui Penjualan Rudal AMRAAM ke Korea Selatan Senilai Rp4,7 Triliun
