Amerika Serikat melancarkan serangan udara gelombang kedua ke Iran pada Kamis pagi, setelah Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa Teheran akan 'membayar harga' atas negosiasi yang terhenti.
Iran merespons dengan serangan yang menarget Bahrain, Kuwait, dan Yordania.
>>> Cara Mengajukan Sanggahan Bansos 2026: Online dan Offline
Serangan ini merupakan yang ketiga kalinya dalam sepekan ini terjadi serangan balasan yang menguji gencatan senjata yang rapuh selama dua bulan.
Serangan AS dan Respons Iran
Komando Pusat AS mengatakan telah 'menyelesaikan' serangan udara terbaru tepat sebelum matahari terbit di Iran. Serangan tersebut menargetkan 'kemampuan pengintaian militer Iran, sistem komunikasi, dan situs pertahanan udara'.
Ledakan dari serangan itu terdengar di ibu kota Iran, Teheran, serta kota pelabuhan Bandar Abbas dan wilayah selatan lainnya di sepanjang Selat Hormuz.
Iran membalas dengan meluncurkan serangan ke Bahrain, Kuwait, dan Yordania.
Kuwait menutup wilayah udaranya saat pertahanan udaranya melawan serangan.
Bandara Internasional Kuwait terkena serangan langsung Iran dalam beberapa hari terakhir, menewaskan satu orang dan melukai puluhan lainnya.
Israel pada Kamis pagi juga memperingatkan warga di utara untuk mencari perlindungan setelah mendeteksi tembakan yang mencurigakan dari Lebanon.
Kedutaan Besar AS di Yordania mengeluarkan peringatan bahwa 'laporan menunjukkan rudal, drone, atau roket berada di wilayah udara Yordania'.
Dampak pada Ekonomi Global
Sejak AS dan Israel memulai perang dengan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, konflik telah mengguncang ekonomi global, mendorong harga energi naik di seluruh dunia, dan membuat makanan serta kebutuhan pokok lainnya lebih mahal.
Patokan internasional untuk minyak mentah diperdagangkan di atas $93 per barel pada Rabu, naik lebih dari 25 persen sejak awal perang.