Bank Sentral Eropa (ECB) pada Kamis menjadi bank sentral besar pertama yang menaikkan suku bunga sebagai respons terhadap perang Iran.
Kebijakan ini diambil saat para pembuat kebijakan di seluruh dunia, termasuk Ketua Federal Reserve AS yang baru, Kevin Warsh, bergulat dengan inflasi yang dipicu oleh kenaikan tajam harga minyak.
>>> Menteri Pertahanan Inggris Mundur, Tuduh PM Starmer Gagal Amankan Negara
Dewan penetapan suku bunga ECB menaikkan suku bunga acuan menjadi 2,25 persen dari 2 persen, level yang bertahan selama setahun.
Langkah ini mendahului pertemuan penetapan suku bunga minggu depan di Fed, Bank Jepang, dan Bank Inggris.
Dampak Perang Iran terhadap Harga Minyak
Harga minyak melonjak tajam akibat Iran menyumbat aliran minyak mentah melalui Selat Hormuz, jalur laut bagi seperlima minyak dan produk bahan bakar dunia dalam kondisi normal.
Kenaikan suku bunga bertujuan meredam inflasi harga konsumen yang dipicu oleh biaya lebih tinggi untuk produk-produk berbahan baku minyak mentah seperti bensin, solar, gas memasak, dan minyak pemanas.
Patokan minyak mentah Brent diperdagangkan di bawah $92 per barel pada Kamis, naik dari sekitar $73 menjelang perang.
Hal ini mendorong inflasi ke 3,2 persen pada Mei di 21 negara yang menggunakan mata uang euro, di atas target ECB sebesar 2 persen.
Namun, para pembuat kebijakan ECB juga harus mempertimbangkan dampak biaya pinjaman yang lebih tinggi terhadap ekonomi yang hanya menunjukkan pertumbuhan sedang.
Hal ini membuat analis berpikir kenaikan Kamis akan menjadi satu-satunya, terutama untuk memberi sinyal kepada pasar keuangan bahwa bank bertekad untuk tidak tertinggal jika inflasi melonjak lebih tinggi.