WASHINGTON — Amerika Serikat dan Iran telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mengakhiri perang yang berlangsung hampir empat bulan, demikian disampaikan pejabat senior AS pada Senin.
MoU tersebut telah ditandatangani oleh Presiden Donald Trump, Wakil Presiden JD Vance, dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf, menurut seorang pejabat AS.
>>> Pengiriman Global Masih Hati-hati Lewati Hormuz Meski Ada Kesepakatan AS-Iran
Pejabat itu menambahkan bahwa upacara penandatanganan resmi akan digelar pada Jumat mendatang.
Kesepakatan ini membawa kelegaan bagi pasar, meskipun risiko masih ada karena kesepakatan menunda pembahasan rumit mengenai program nuklir Iran.
MoU ini memberikan kerangka kerja bagi hubungan AS-Iran ke depan.
Pejabat AS menekankan bahwa pencabutan sanksi dan pelepasan dana beku Iran hanya akan dilakukan jika Iran bersedia bekerja sama dalam isu nuklir dan tidak mendanai apa yang disebut sebagai radikalisme di kawasan.
Lalu Lintas Selat Hormuz Meningkat
Dalam jangka pendek, MoU memungkinkan pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran utama pasokan minyak dan gas global yang ditutup Iran selama berbulan-bulan.
>>> Trump Rayakan Ultah ke-80 dengan Kesepakatan Iran dan Pertarungan UFC di Gedung Putih
Seorang pejabat AS mengatakan lalu lintas di Selat Hormuz akan segera meningkat secara signifikan, meskipun butuh waktu untuk kembali normal.
"Anda akan melihat peningkatan signifikan lalu lintas di Selat Hormuz, mulai sekarang, dan akan meningkat perlahan seiring waktu," kata pejabat tersebut.
"Kami mungkin tidak akan kembali normal dalam dua minggu, tetapi akan ada peningkatan signifikan lalu lintas selat," tambahnya.
Pejabat AS juga menyatakan bahwa penarikan Israel dari Lebanon bukan merupakan syarat dalam kesepakatan antara AS dan Iran.
Israel tetap memiliki hak untuk membela diri terhadap serangan Hizbullah.
>>> Harga Minyak Anjlok 5% ke Terendah 3 Bulan Setelah AS-Iran Sepakat Buka Selat Hormuz
MoU ini merupakan terobosan terbesar menuju penyelesaian konflik yang telah menewaskan ribuan orang dan mengganggu pasar energi sejak dimulainya serangan gabungan AS-Israel ke Iran pada Februari lalu.
