Para pemimpin negara-negara Kelompok Tujuh (G7) kembali menegaskan komitmen mereka terhadap denuklirisasi penuh Korea Utara.
Hal ini tertuang dalam pernyataan bersama yang dirilis pada Rabu (18/6/2025) setelah KTT di Evian-les-Bains, Prancis.
>>> Kesepakatan Sementara AS-Iran: Nasib Program Nuklir Teheran Masih Dirundingkan
Pernyataan tersebut membahas isu-isu geopolitik terkait Indo-Pasifik, Timur Tengah, dan Ukraina.
Para pemimpin AS, Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Jepang, dan Italia hadir dalam pertemuan yang berlangsung sejak Senin hingga Rabu.
"Kami menyatakan keprihatinan mendalam atas program nuklir dan rudal balistik Korea Utara," demikian bunyi pernyataan tersebut.
"Kami menegaskan kembali komitmen kami terhadap denuklirisasi lengkap Korea Utara sesuai dengan resolusi Dewan Keamanan PBB."
Para pemimpin G7 juga mendesak Pyongyang untuk segera menyelesaikan masalah warga yang diculik.
Mereka juga menekankan perlunya mengatasi pencurian mata uang kripto dan kejahatan siber Korea Utara secara bersama.
>>> Dolar Menguat Jelang Pertemuan Pertama Warsh sebagai Ketua Fed
Selain itu, mereka menyoroti pentingnya Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka berdasarkan aturan hukum. Hal ini tampaknya merupakan ekspresi kekhawatiran atas meningkatnya ketegasan Tiongkok di kawasan tersebut.
"Kami menegaskan kembali penolakan kami terhadap setiap upaya sepihak untuk mengubah status quo, khususnya dengan kekerasan atau paksaan, di Laut Tiongkok Timur dan Selatan serta Selat Taiwan," kata para pemimpin.
"Masalah-masalah itu hanya boleh diselesaikan secara damai melalui dialog."
Para pemimpin menyambut baik pengumuman kesepakatan AS-Iran yang bertujuan mengakhiri perang berbulan-bulan.
Mereka menyebutnya sebagai peluang bersejarah untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dan mengatasi ancaman terkait pengaruh regional serta kemampuan rudal balistik Iran.
"Kami mendukung dan siap berkontribusi pada implementasinya," kata mereka.
>>> Negara G7 Izinkan Produksi Rudal Jarak Jauh di Ukraina
Selain itu, mereka menegaskan bahwa hak lintas transit tanpa pembatasan atau pungutan adalah landasan perdagangan internasional, merujuk pada Selat Hormuz yang sempat ditutup Iran selama perang.
