Starmer berjanji 'reset' tetapi menolak bergabung kembali dengan pasar tunggal UE yang bebas hambatan. Brexit tetap menjadi urusan yang belum selesai.
Partai Politik Terpecah
Sejarawan Anthony Seldon mengatakan Cameron mengadakan referendum dengan harapan mengakhiri perdebatan tentang Eropa di Partai Konservatif. Namun, hal itu tidak terjadi.
Selama negosiasi perceraian, Konservatif yang menginginkan Brexit lunak dan hubungan lebih erat dengan UE tersingkir oleh faksi pendukung Brexit yang menang.
>>> Iran Berkomitmen Buka Transit Selat Hormuz dan Izinkan Inspektur IAEA
Partai Buruh juga terpecah antara yang ingin mendekati UE dan yang ingin menghindari luka lama.
Jutaan pemilih meninggalkan dua partai besar menuju Partai Hijau atau Reform UK pimpinan Nigel Farage.
Farage, yang berkampanye untuk Brexit lalu mengklaim dikhianati, kini memimpin jajak pendapat dengan pesan anti-imigrasi.
Sinisme dan Kekerasan Politik
Ekonomi Inggris lesu dalam satu dekade terakhir, meski Brexit bukan satu-satunya penyebab. Pandemi COVID-19, perang Rusia-Ukraina, dan konflik Iran juga berperan.
Hannah White dari Institute for Government mengatakan politisi tidak jujur kepada publik tentang keterbatasan anggaran. Akibatnya, kekecewaan meluas.
Brexit gagal meredakan perdebatan imigrasi.
Migrasi bersih justru naik menjadi lebih dari 900.000 pada 2023 sebelum turun menjadi 171.000 tahun lalu.
Sinisme dan ketidakpercayaan pada politisi meningkat.
Dalam beberapa tahun terakhir, agitator memicu kekerasan jalanan anti-imigrasi setelah kejahatan yang dilakukan atau dikabarkan dilakukan oleh imigran.
Akademisi Chris Grey mengatakan batas antara politik konvensional dan kekerasan jalanan mulai terkikis, sebagian besar dimulai dengan Brexit.
Penyesalan?
Jajak pendapat Ipsos baru-baru ini menunjukkan 52 persen warga Inggris ingin bergabung kembali dengan UE, sementara 33 persen menentang.
Ratusan orang berbaris di London pada akhir pekan dalam pawai 'bergabung kembali', meski jumlahnya jauh lebih kecil dibanding protes masa lalu.
Namun, Brexit tetap menjadi ladang ranjau yang ditakuti politisi. Bahkan jika Inggris ingin bergabung kembali, jalannya panjang menuju UE yang waspada.
>>> Dana Rp4.800 Triliun untuk Iran: Apa yang Perlu Diketahui?
Grey mengatakan selama politisi tidak mau menghadapi warisan Brexit, Inggris akan menghadapi 'krisis tingkat rendah yang kronis'.