Saat bepergian sendirian ke daerah pedesaan, Lee sering menginap di penginapan lokal. Ia menyadari bahwa cerita-cerita di desa selalu berkisar pada satu figur: 'ijang' atau kepala desa.
"Ke mana pun saya pergi, orang-orang selalu merujuk pada ijang," kenangnya. "Merekalah yang tahu segalanya, melakukan semua pekerjaan aneh, dan dalam satu hal melayani seluruh desa."
Peran antara penjaga lingkungan dan penjaga gerbang itu membuat pemilihan kepala desa menjadi alat yang tak tertahankan. Mantan suami Manok, Cheol-ju, adalah petahana yang menggunakan kekuasaan itu.
Saat ia menggagalkan upaya Manok untuk hidup tenang, Manok akhirnya marah dan memutuskan untuk melawannya.
Latar di wilayah Chungcheong dipilih dengan sengaja. Lee, yang berasal dari Cheonan di Provinsi Chungcheong Selatan, menyukai humor 'lembut tapi tajam' khas daerah itu.
"Orang Chungcheong mengamati segalanya dengan saksama tetapi tidak mengatakannya secara langsung," katanya sambil tertawa. "Ada ambiguitas dan ironi dalam cara mereka berbicara yang sangat cocok untuk komedi."
Lee juga menyukai bahwa Chungcheong, tidak seperti Jeolla atau Gyeongsang, jarang disorot dalam budaya pop atau narasi politik.
"Ada begitu banyak kota kecil yang indah di wilayah Chungcheong, tetapi mereka tidak mendapat perhatian yang sama seperti daerah lain," ujarnya.
Tawa sebagai Senjata
Lee jujur tentang biasnya sendiri: "Saya suka membuat orang tertawa." Namun, itu lebih dari sekadar preferensi pribadi.
"Saat hidup sulit, orang pergi ke bioskop untuk film aksi atau komedi," katanya.
"Orang queer tidak berbeda—mereka juga hanya ingin menonton sesuatu yang sangat lucu kadang-kadang."
Saat ia meneliti politik desa, komunitas queer, dan kehidupan pedesaan, naskahnya mulai membengkak dan menjadi gelap. "Saya sadar film itu mulai menjauh dari niat awal," katanya.