"Jadi saya terus bertanya pada diri sendiri, 'Jika saya hanya bisa melakukan satu hal dengan Manok, apa itu?
Jawabannya adalah mengisi dua jam di bioskop dengan tawa lembut.'"
Itu berarti mengurangi eksposisi berat dan memperlakukan riset sebagai bahan mentah untuk situasi komedi, bukan realisme dramatis. "Sembilan puluh sembilan persen desa adalah fiksi," kata Lee.
Detail seperti nenek 'gangster' yang melesat dengan skuter mobilitas, atau polisi tidur palsu yang menjadi lelucon berulang, berasal dari imajinasi berdasarkan pengamatan kecil dan kliping koran.
Meski begitu, Lee serius tentang sasaran tawa tersebut.
"Komedi bisa menjadi kekerasan," akunya, seraya menambahkan bahwa apa yang orang anggap lucu bersama kadang bisa mengecualikan orang lain.
Dengan 'Manok', ia terus menyajikan 'tawa aman'—menyerang ke atas, bukan ke bawah—dan menyeimbangkan deadpan khas Chungcheong dengan lelucon orang dalam dari komunitas queer.
Mencerminkan Kehidupan LGBTQ Nyata
'Manok' mengangguk pada beberapa realitas kehidupan queer Korea—kelangkaan ruang aman di luar kota besar, kerapuhan bar queer, beban keluarga, dan trauma karena di-outing.
Pada momen paling berbahaya dalam film, Cheol-ju secara terbuka meng-outing Manok di depan desa, situasi yang ditakuti banyak queer Korea.
Awalnya Lee menulis urutan yang sangat detail di mana Manok secara metodis membujuk penduduk desa yang skeptis untuk menerimanya.
>>> Creative XF1 Resmi Meluncur dengan DAC Hi-Res, Bluetooth 6.0, dan Output 72W RMS
"Ada pertemuan panjang, banyak dialog, banyak masalah yang dibahas, dan akhirnya pelantikan," katanya.
"Tapi kemudian saya bertanya pada diri sendiri, apakah benar tugas orang queer untuk meyakinkan semua orang di sekitar mereka, satu per satu, bahwa identitas mereka baik-baik saja?"