unique visitors counter
alt top
⌂ Beranda Hiburan Film 'Manok' Angkat Kisah Lesbian Paruh Baya Jadi Kepala Desa

Film 'Manok' Angkat Kisah Lesbian Paruh Baya Jadi Kepala Desa

Film 'Manok' Angkat Kisah Lesbian Paruh Baya Jadi Kepala Desa
Ilustrasi: Film 'Manok' Angkat Kisah Lesbian Paruh Baya Jadi Kepala Desa
A A Ukuran Teks16px
alt mid

Jauh dari sekadar isyarat simbolis, Lee menggambarkan pilihan casting ini sebagai keputusan penyutradaraan yang praktis.

"Jika aktor cisgender memerankan Jae-yeon, mereka harus mempersiapkan 17 atau 18 tahun pengalaman hidup yang tidak pernah mereka jalani, atau mengandalkan penggambaran media yang ada," katanya.

"Dengan anggaran dan jadwal kami, persiapan mendalam semacam itu tidak mungkin—dan kami mungkin akan mengulang stereotip."

alt top

Sebaliknya, bekerja dengan aktor queer memungkinkan adegan tertentu menjadi lucu. Lee menunjuk pada momen ketika Sun-ah beralih ke suara otoritatif palsu dalam konfrontasi di kamar mandi.

"Jika aktor laki-laki cisgender melakukan itu, bisa dengan mudah terasa ofensif," katanya. "Karena siapa Sak-ja, dan bagaimana kami membangun kepercayaan di lokasi syuting, itu menjadi sesuatu yang lain."

Reaksi Penonton

Sejak tayang perdana, 'Manok' mendapat sambutan antusias di festival film dan acara queer di dalam dan luar negeri.

alt mid

Beberapa penulis dan aktivis queer membantu mengubah diskusi pasca-film menjadi satu jam percakapan yang penuh sukacita. "Kegembiraan mereka lebih tinggi dari saya," katanya.

"Melihat betapa mereka ingin menyebarkan berita membuat saya bekerja lebih keras."

Beberapa pesan lebih bersifat pribadi dan rentan.

Penonton menulis untuk memberitahunya bahwa, setelah menonton film, mereka akhirnya keluar kepada orang tua mereka atau mempertimbangkan kembali bagaimana mereka melihat kampung halaman mereka sendiri.

Di luar negeri, penonton imigran dan diaspora mengatakan bahwa Iban-ri mengingatkan mereka pada 'rumah' yang mereka tinggalkan, atau yang mereka bayangkan akan kembali suatu hari nanti.

"Itu membuat saya sadar bahwa setiap orang memiliki Iban-ri mereka sendiri," kata Lee.

Lee menegaskan bahwa ia tidak melihat 'Manok' sebagai cetak biru representasi queer di Korea. Yang ia inginkan, katanya, hanyalah lebih banyak—dan lebih beragam—cerita.

alt under
M
Tim Redaksi
Penulis: Maria Renata
alt mid
📰 Update Terbaru