Sebagai gantinya, ia menulis ulang klimaks seputar acara TV lokal yang menampilkan Manok dalam kapasitasnya sebagai calon kepala desa.
"Saya sadar bahwa yang perlu dia lakukan adalah pekerjaannya sebagai calon ijang, bukan juru bicara minoritas," kata Lee.
Dalam adegan itu, Manok berbicara terus terang kepada tetangganya di platform mereka sendiri, dan film menyerahkan kepada penonton untuk membayangkan jumlah suara yang tepat.
"Jika dia bekerja dengan baik, dia akan terpilih kembali; jika dia menyalahgunakan kekuasaan, dia akan digulingkan," kata Lee.
"Itu standar yang sama seperti orang lain, dan itu lebih penting daripada menjelaskan berapa banyak orang yang berubah pikiran tentang seksualitasnya."
Ia waspada jika dimintai solusi yang tidak bisa diberikan oleh satu cerita pun. "Orang kadang ingin film ini menunjukkan 'bagaimana seorang queer bisa menjadi politisi (di Korea),'" katanya.
"Tapi saya juga tidak tahu jawabannya. Itu tergantung pada masing-masing individu dan komunitas, dan terlalu berat untuk dibebankan pada satu karakter."
Pemilihan Pemain yang Cermat
Di samping aktor berpengalaman dari film independen dan teater—termasuk Yang Mal-bok, Kim Jung-young, dan Park Wan-gyu—Lee bertekad bekerja dengan aktor queer, terutama untuk peran yang paling dekat dengan generasi muda saat ini.
Ia mengadakan pemanggilan terbuka di media sosial khusus untuk pemain queer guna memerankan Jae-yeon, seorang remaja laki-laki transgender di desa.
"Jauh lebih banyak orang yang mendaftar dari yang saya duga," katanya.
Proses itu membawanya ke Sung Jae-yun, yang bukan aktor profesional, tetapi menurut Lee, "memiliki begitu banyak bakat dan pesona."
Melalui seorang teman seniman, ia juga bertemu Sak-ja, seorang pemain transgender yang memerankan Sun-ah. Bagi keduanya, 'Manok' adalah pertama kalinya mereka berakting di depan kamera.