Namun, dalam ingatan publik, semua itu terlampaui oleh kemenangannya di Kompetisi Chopin 2015.
Momen itu mengubah lanskap musik klasik Korea. Secara internasional, Cho telah lama melampaui status sebagai "orang Korea pertama yang memenangi Kompetisi Chopin."
Di Jerman dan AS, ia dianggap sebagai salah satu pianis terkemuka abad ke-21. Jepang, setelah pengamatan bertahun-tahun, juga menerimanya sebagai artis tepercaya.
Jerman: Musisi, Bukan Bintang
Untuk memahami Cho, kita harus melihat ke Jerman, tempat ia tinggal saat ini. Budaya musik Jerman telah lama menilai pianis sebagai musisi, bukan selebritas.
Teknik virtuoso dan kemenangan kompetisi pada akhirnya memudar.
Yang terpenting adalah seberapa dalam seorang seniman memahami Beethoven, Schubert, Brahms, dan Bach, serta apakah pemahaman itu dapat diekspresikan dalam bahasa musik pribadi.
Kritikus Jerman mengagumi Cho karena pemahaman mendalamnya terhadap tradisi musik Jerman.
Fraseringnya terkendali, garis struktural tetap jelas, rubato digunakan secara hemat, dan skor diperlakukan dengan kesetiaan luar biasa.
Istilah seperti "kejelasan struktural," "transparansi tekstur," dan "pemikiran arsitektural" digunakan secara positif untuk menggambarkan permainannya.
Alih-alih memproyeksikan emosi ke dalam musik, Cho unggul dalam mengungkap struktur dasar dan aliran alaminya.
Kritikus Jerman semakin menempatkannya dalam garis artistik Maurizio Pollini daripada Lang Lang, dengan kesamaan dalam pendekatan intelektual terhadap musik.
>>> Penulis Prancis Ajak Pembaca Korea Ikuti Panggilan Jiwa, Bukan Kesuksesan Materi
Meski demikian, Jerman belum memahkotai Cho sebagai pianis penentu zamannya. Ada kesepakatan luas bahwa ia sudah menjadi interpreter luar biasa.
Yang ditunggu kritikus adalah suara artistik yang lebih khas dan tak salah lagi milik Cho sendiri.
AS: Pengendalian Diri sebagai Ciri Khas
Dunia musik klasik AS melihatnya agak berbeda.