Amy Neville menyebut Kristin Bride sebagai "belahan jiwa"-nya. Namun hari yang mengikat mereka, 23 Juni 2020, adalah hari terburuk dalam hidup masing-masing.
Baik Bride maupun Neville kehilangan putra remaja mereka pada hari itu.
>>> Messi Cetak Rekor Baru: Gol di 7 Laga Piala Dunia Beruntun
Anak-anak mereka tinggal ribuan mil terpisah dan tidak pernah bertemu, tetapi keduanya meninggal karena bahaya terkait penggunaan media sosial.
Ketika kedua ibu itu bertemu di awal perjuangan advokasi mereka untuk melindungi anak-anak lain, Bride merasa "benar-benar sendirian".
Namun sejak itu, gerakan keselamatan anak daring berkembang pesat, dengan puluhan orang tua lain yang kehilangan anak mengejar perlindungan media sosial yang lebih kuat.
Dengan momentum itu, para advokat mengatakan arah perubahan mulai terlihat. Dua vonis juri penting tahun ini menunjukkan jalan ke depan untuk meminta pertanggungjawaban perusahaan teknologi.
Meskipun AS masih jauh dari menerapkan larangan media sosial untuk anak-anak seperti yang dilakukan Australia hingga Indonesia, dorongan untuk regulasi kembali bergema di Kongres.
"Ke depan bagi saya, ini adalah gelombang dukungan. Kami kini memiliki opini publik di pihak kami, dan itu kuat.
Itu telah membawa segalanya ke tingkat berikutnya," kata Neville dalam sebuah wawancara.
Vonis Juri Jadikan Perusahaan Media Sosial Bertanggung Jawab
Kesadaran yang meningkat tentang bahaya media sosial bagi otak muda telah terlihat dalam gelombang pembatasan baru secara global.
Australia, Inggris, Turki, Indonesia, dan lainnya telah melarang anak di bawah 16 atau 15 tahun menggunakan platform seperti TikTok, YouTube, dan Instagram.
Di AS, gerakan ini berubah arah dengan dua vonis juri terhadap Meta dan satu terhadap Google yang menggembleng para pendukung keselamatan anak daring.