Bahrain dan Kuwait pada Minggu (28/6) mengatakan bahwa Iran menyerang wilayah mereka dengan tembakan drone dan rudal setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara baru ke Iran.
Serangan ini merupakan bagian dari baku tembak yang meningkat dan mempertanyakan kesepakatan sementara yang bertujuan mengakhiri perang di kawasan tersebut.
>>> Tiga Pekerja Percetakan di Senen Diborgol, Keluarga Diminta Tebus Rp50 Juta
Serangan terhadap Bahrain dan Kuwait terjadi setelah badan maritim multinasional yang diawasi Angkatan Laut AS pada Sabtu mengatakan akan memperluas rute di dekat Oman di selat tersebut untuk memungkinkan lalu lintas masuk dan keluar.
Langkah itu kemungkinan akan menciptakan titik api baru dengan Teheran.
Serangan Balasan AS
Komando Pusat militer AS mengatakan pihaknya menyerang "infrastruktur pengawasan, sistem komunikasi, situs pertahanan udara, fasilitas penyimpanan drone, dan kemampuan penambang" militer Iran setelah serangan terhadap sebuah kapal di laut pada Sabtu pagi.
Kapal tersebut adalah kapal tanker berbendera Panama, Kiku, yang membawa minyak mentah untuk perusahaan energi milik negara Qatar, mediator utama antara Iran dan AS.
Dalam unggahan di media sosial, Presiden AS Donald Trump mengatakan AS telah "menghantam lokasi penyimpanan rudal dan drone Iran, serta situs radar pesisir, karena melanggar Perjanjian Gencatan Senjata, LAGI!"
Ia memperingatkan bahwa AS mungkin tidak lagi bisa bersikap masuk akal "dan akan dipaksa untuk menyelesaikan pekerjaan secara militer."
>>> Arti Logo Kia Terungkap, Ternyata Simpan Filosofi Besar soal Masa Depan Mobilitas
"Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi!" tulis Trump di Truth Social.
Insiden ini mengikuti baku tembak serupa beberapa hari sebelumnya ketika sebuah drone Iran menyerang kapal dagang di lepas pantai Oman pada Kamis dan militer AS membalas dengan serangan.
Tanggapan Kuwait dan Bahrain
Setelah serangan AS pada Minggu pagi, militer Kuwait mengatakan pertahanan udaranya mencegat drone dan rudal Iran yang masuk.
Tidak ada informasi langsung mengenai kerusakan.
Kuwait menjadi tuan rumah pangkalan militer utama AS.
Kementerian Luar Negeri Bahrain mengeluarkan pernyataan yang mengecam apa yang disebutnya "eskalasi berbahaya yang mengungkapkan bahwa apa yang dilakukan Teheran bukanlah tindakan yang lewat, atau insiden terisolasi, melainkan pendekatan yang disengaja dan pola sistematis agresi berulang terhadap kedaulatan kerajaan, dan keamanan warga negara serta penduduknya."
>>> Keluarga Korban Dampak Media Sosial Dorong Perubahan di AS
Bahrain menjadi tuan rumah Armada ke-5 Angkatan Laut AS, yang pangkalannya di sana berulang kali menjadi sasaran serangan selama perang.