Neungsohwa, atau bunga terompet, tengah menjadi ikon musim panas bagi generasi muda Korea. Tanaman merambat ini menghasilkan rangkaian bunga besar berwarna kuning dan oranye terang.
Batangnya yang lentur dapat memanjat dinding, pagar, dan batang pohon hingga ketinggian 10 meter. Bunga ini biasanya mekar dari Juli hingga September, dengan puncak sekitar Agustus.
>>> Seoul Gelar Try Everything 2026, Pamerkan Ekosistem Startup Bernilai Rp1.500 Triliun
Bunga terompet dikenal tahan terhadap panas, hujan, dan angin. Tanaman ini telah lama dibudidayakan di rumah-rumah dan taman di seluruh Korea.
Popularitas bunga ini berakar dari namanya yang berarti 'menghina langit'. Esai tentang 'menertawakan' atau 'menentang' langit musim panas yang keras viral di media sosial.
Cerita lama menggambarkan bunga ini sebagai simbol martabat dan integritas meski layu, karena kelopaknya jatuh utuh tanpa berserakan.
>>> 3 Cara Sederhana Mengurangi Stres, dari Pekerjaan hingga Kekecewaan Piala Dunia
Mitos tentang toksisitasnya kini dianggap berlebihan.
Pada masa Joseon (1392-1910), tanaman ini ditanam sebagai hiasan bagi para sarjana yang lulus ujian negara tertinggi. Kini, berfoto di bawah bunga terompet menjadi ritual musiman.
>>> Seoul Ajak Warga Pilih 10.000 Destinasi Wisata Lewat Proyek 100x100
Beberapa tempat populer untuk menikmati bunga ini antara lain Taman Hangang Ttukseom, Seochon di barat Gyeongbokgung, Perpustakaan Umum Jeongdok, Huam-dong, dan Stasiun Namyoung.