Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Dipo Satria Ramli, menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini lebih banyak dipicu faktor domestik.
Menurutnya, kontribusi faktor domestik mencapai 60%-70%, sementara faktor global hanya 30%-40%.
Pernyataan itu disampaikan Dipo dalam agenda CORE Midyear Economic Review 2026, Rabu (29/7/2026).
Pada hari yang sama, rupiah membuka perdagangan dengan pelemahan 0,12% ke posisi Rp18.088/US$.
Dipo menjelaskan, tekanan terhadap rupiah terjadi karena mata uang Indonesia mengalami pelemahan paling dalam di kawasan Asia.
Bahkan, rupiah masuk dalam jajaran mata uang dengan kinerja terburuk, yakni peringkat kedua atau ketiga terlemah dalam indeks mata uang.
Ia menambahkan, jika pelemahan lebih banyak dipengaruhi faktor global, pergerakan rupiah seharusnya sejalan dengan mata uang negara lain di kawasan.
Namun, kondisi rupiah berbeda dibandingkan ringgit Malaysia, baht Thailand, dan peso Filipina yang telah mengalami penguatan.