Di Shannan, Tibet, lebih dari belasan pria dan wanita duduk di alat tenun kayu, menggeser shuttle melalui benang wol sebelum menarik setiap benang hingga kencang.
Mereka mengulangi proses itu berulang kali sambil menenun Pulu, kain wol tradisional yang telah digunakan masyarakat di dataran tinggi Tibet selama berabad-abad.
>>> Gejolak Bursa Korsel Mereda, Leverage Turun
Mereka bekerja di Koperasi Tenun Tangan Etnis Huaji, tempat para pengrajin berupaya melestarikan salah satu tradisi tenun tertua di Tibet sambil menciptakan lapangan kerja bagi warga setempat.
Didirikan pada 2008 oleh pengrajin asal Tibet, Pasang, koperasi ini mempekerjakan lebih dari 100 warga lokal, termasuk penyandang disabilitas, sambil mengajarkan keterampilan menenun kepada generasi muda Tibet yang ia khawatirkan akan hilang.
Spesialisasi Zeter
Koperasi ini mengkhususkan diri pada Zeter, varietas Pulu yang lebih halus, terbuat dari wol yang sangat lembut dari leher dan punggung domba.
Pasang mengatakan wol yang lebih halus membuat benang lebih sulit dipintal dibandingkan Pulu biasa.
Ia menjelaskan bahwa Zeter lebih ringan, lebih lembut, dan lebih halus daripada Pulu biasa, sehingga pernah dipersembahkan sebagai upeti dari Tibet kepada istana kekaisaran Tiongkok pada masa Dinasti Ming.
Pasang mempelajari keterampilan ini dari orang tuanya saat kurang dari 10 orang masih tahu cara menenun Zeter.
Ia menambahkan bahwa kerajinan ini telah diakui sebagai warisan budaya takbenda nasional Tiongkok, dan ia berharap generasi muda akan terus melestarikannya.
Wol berasal dari domba yang dipelihara di sekitar Shannan, yang terletak sekitar 3.700 meter di atas permukaan laut.
Sejarah dan Budaya
Patung Raja Songtsen Gampo dari Tibet abad ke-7 dan pengantinnya dari Tiongkok, Putri Wencheng, berdiri di tengah bengkel, dikelilingi alat tenun kayu.
