Wakil Menteri Keuangan Juda Agung memproyeksikan kebutuhan investasi Indonesia pada 2027 mencapai Rp8.705 triliun.
Jumlah tersebut jauh di atas gabungan pembiayaan APBN yang hanya sekitar Rp459 triliun, maupun entitas BUMN-Danantara yang diperkirakan berkontribusi sekitar Rp330 triliun.
>>> Inflasi Juli 2026 Tembus 2,88 Persen, Mendagri Tito: Masih Ideal
Dengan kondisi tersebut, APBN tidak akan sanggup memenuhi kebutuhan investasi Indonesia.
Alhasil dibutuhkan berbagai sumber pembiayaan lainnya.
Pemerintah berharap porsi pembiayaan investasi tahun depan mencapai Rp7.973 triliun atau mencakup 91% dapat dipenuhi oleh pihak swasta.
"APBN hanya mampu menjangkau sekitar Rp459 triliun, sebagian lagi oleh BUMN termasuk Danantara sebesar Rp330 triliun.
>>> Ketua DPD RI Undang Ma'ruf Amin ke Sidang Bersama DPR-DPD
Sisanya, sebagian besar harus berasal dari sumber pembiayaan swasta, yaitu 7.973 triliun atau sekitar 91% berasal apakah itu dari bank, pembiayaan lain, dan termasuk di sini adalah pasar modal," kata Juda dalam acara Peluncuran ETF Emas, Senin (10/8/2026).
Juda mengungkapkan pasar modal memiliki posisi strategis dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan investasi nasional.
Pasar modal diyakini dapat menjadi penghubung antara kebutuhan pendanaan perusahaan dengan dana yang dimiliki masyarakat dan investor.
>>> Besok, KPK Bacakan Dakwaan Yaqut Cholil Qoumas Cs
Selain itu, Juda menilai penguatan pasar modal Indonesia perlu terus dilakukan agar mampu menjalankan fungsi tersebut secara optimal, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
