Fenomena angin puyuh atau puting beliung skala mikro muncul di kawasan Alun-alun Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Kamis, 13 Agustus 2026.
Kemunculan pusaran angin itu sontak menarik perhatian warga di sekitar lokasi.
Sejumlah warga mengabadikan fenomena tersebut menggunakan kamera ponsel.
Pusaran angin terlihat berputar di area terbuka sebelum akhirnya menghilang dalam waktu singkat.
Penjelasan BMKG
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Kelas I Banten, Apolinaris Samsudin Geru, menjelaskan angin puyuh merupakan fenomena siklon berskala mikro.
Fenomena ini terbentuk akibat perbedaan tekanan dan temperatur udara.
Udara panas dan lembap di permukaan bumi bergerak naik dengan cepat, sementara udara lebih dingin di lapisan atas bergerak turun.
"Pertemuan dua massa udara itu dapat membentuk arus vertikal yang kuat," ungkap Apolinaris.
Perbedaan kecepatan angin pada lapisan udara memicu gesekan yang kemudian membentuk pusaran.
Ketika tekanan udara di tengah pusaran menjadi sangat rendah, udara di sekitarnya tertarik masuk dengan kecepatan tinggi.
Jika pusaran cukup kuat dan memanjang hingga ke permukaan tanah, terbentuklah angin puyuh menyerupai corong.
Angin puyuh memiliki skala relatif kecil dengan diameter sekitar 10 hingga 100 meter.
Fenomena ini biasanya berlangsung singkat, sekitar 3 hingga 10 menit.
Kemunculannya lebih berpotensi terjadi pada siang hingga sore hari saat udara cukup panas dan lembap.