Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi meragukan klaim pemerintah bahwa pendapatan pengemudi ojek online (ojol) naik tiga kali lipat setelah pemangkasan potongan aplikator.
Menurutnya, hal itu baru sebatas teori dan belum tentu terjadi di lapangan.
>>> Srondeng dan Para Jawara Panjat Tebing Dunia Siap Bertarung di EISCC 2026 Bandung
Ibrahim menjelaskan, pemangkasan potongan aplikator menjadi 8 persen memang membuat porsi pendapatan pengemudi lebih besar.
Namun, kebijakan itu juga berpotensi mendorong semakin banyak orang mendaftar sebagai pengemudi ojol, terutama di tengah tingginya PHK dan sulitnya mendapat pekerjaan.
"Jadi gini, kalau pemerintah itu wajar dong dengan adanya pengurangan aplikator mendapatkan 8 persen berarti kan pendapatan untuk Gojek (driver) kan bertambah?
Tiga kali lipat bertambah. Iya, itu teorinya.
Itu teorinya seperti itu, tapi praktiknya enggak seperti itu," kata Ibrahim kepada Poskota, Jumat, 14 Agustus 2026.
Menurut Ibrahim, bertambahnya jumlah pengemudi tidak otomatis diikuti peningkatan jumlah konsumen. Akibatnya, persaingan mendapatkan penumpang semakin tinggi sehingga pendapatan pengemudi tetap rendah meskipun potongan aplikator sudah dipangkas.
"Presiden dalam pidato kan teori, dia hanya teori kan? Praktiknya tidak seperti itu.
Iya kan, berbanding terbalik," ujarnya.
>>> Hindari Macet di Puncak Bogor? Ini 6 Jalur Alternatif yang Bisa Anda Coba
Ia menyebut kondisi tersebut terjadi karena banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan kemudian memilih menjadi pengemudi ojol sebagai alternatif penghasilan.
Bahkan, orang yang masih bekerja pun bisa mendaftar untuk menambah penghasilan.
Sementara itu, jumlah pengemudi jauh lebih banyak daripada pengguna layanan, sehingga satu penumpang harus diperebutkan banyak pengemudi di sekitar lokasi.
Ibrahim juga menceritakan pengalamannya naik ojol dari Thamrin dengan tarif Rp120 ribu, tetapi pengemudi mengaku order tidak selalu ramai.
"Tadi saya pulang sama juga dengan naik Gojek dari Bursa Berjangka Jakarta dari Thamrin, ya sama juga sepi sekarang.
Semua sepi," ucapnya.
Ibrahim mengatakan, pengemudi biasanya mengandalkan waktu-waktu tertentu untuk mendapat pendapatan lebih tinggi, terutama pagi dan sore hari.
>>> Kontrakan Cimahi Digegerkan Temuan Dua Pria Berlumuran Darah
Pada siang hari, jumlah pesanan cenderung lebih sedikit sehingga sebagian pengemudi memilih beristirahat.
