Stephen Chow kembali membuktikan kepiawaiannya mengolah komedi absurd dan aksi beladiri khasnya melalui Kung Fu Soccer. Film ini hadir untuk mengobati kerinduan penggemar.
Kali ini, Chow membawa ide segar tentang sekelompok perempuan berusia 30-an yang dianggap 'kedaluwarsa' untuk dunia olahraga. Mereka berjuang membuktikan kapasitas lewat solidaritas dan kesempatan kedua.
>>> Gugup Tatap Leonardo DiCaprio, EJAE Akui Suaranya Sempat Pecah
Sejak menit pertama, Chow yang merangkap sutradara dan penulis naskah ogah membuang waktu untuk basa-basi.
Ia langsung melempar penonton ke tengah arena, menyaksikan perjuangan klub sepak bola putri yang tak diunggulkan dalam turnamen besar.
Sayangnya, keputusan tancap gas sejak awal membuat paruh pertama film terasa agak ngos-ngosan. Penonton dipaksa menerima luapan emosi dan dinamika internal pemainnya tanpa dibekali fondasi cerita yang jelas.
Penokohan dan Akting
Fokus penceritaan terletak pada Shuangshuang, kapten sekaligus pelatih tim sepak bola Emei yang diperankan Zhang Xiaofei.
Xiaofei tampil total dengan ekspresi maniak dan emosi meledak-ledak, seperti cermin versi perempuan dari karakter master brother yang ikonis di film-film Chow sebelumnya.
Ia kemudian dibenturkan dengan Dilraba Dilmurat yang memerankan Yu Long, mantan sahabat yang pernah terpisah dan kini bersikap cuek.
Dilraba tampil total, melepas beban citra aktris jelita demi peran yang santai tapi karismatik.
Gesekan kepribadian Shuangshuang dan Yu Long sebetulnya punya modal kuat untuk digali lebih dalam. Sayangnya, eksekusi terasa dangkal sehingga kilas balik mereka seperti formalitas penambal lubang naskah.
Pendekatan ini bertolak belakang dari Shaolin Soccer yang royal membagikan porsi tumbuh bagi karakter pendukung seperti Zhao Wei atau mendiang Ng Man-Tat.
Komedi dan Efek Visual
Dalam 106 menit durasinya, Kung Fu Soccer menghabiskan banyak waktu fokus pada luapan amarah pemeran utama. Alhasil, karakter di luar mereka cuma jadi figuran tanpa jiwa.
