Ketua Federal Reserve Kevin Warsh pada Jumat (28/8) mengatakan inflasi masih terlalu tinggi dan mengisyaratkan bank sentral mungkin perlu menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan untuk menurunkannya.
Ini merupakan sinyal yang lebih jelas dari sebelumnya mengenai pandangan ekonominya.
>>> Trump Tak Buru-buru Akhiri Konflik Iran, Padahal Dulu Janji Cepat Selesai
Dalam pidato pertamanya yang dinanti di konferensi tahunan Fed di Jackson Hole, Wyoming, Warsh mengakui data terbaru AS menunjukkan inflasi sedikit mendingin.
Namun, menurutnya, data tersebut tidak menunjukkan bahwa tren fundamental telah membaik secara signifikan.
"Kita harus yakin bahwa inflasi yang mendasar bergerak menuju target kita, dengan jelas dan dengan kecepatan yang cukup," kata Warsh.
"Jika tidak, kita punya pekerjaan rumah."
Sinyal Kenaikan Suku Bunga
Warsh menggantikan Jerome Powell pada 22 Mei lalu. Pidatonya kali ini dinilai berisiko tinggi karena pasar keuangan mempertanyakan fokusnya dalam memerangi inflasi.
Kekhawatiran tersebut mungkin berkontribusi pada kenaikan imbal hasil obligasi, yang dapat meningkatkan biaya pinjaman bagi pemerintah dan semua pihak.
Namun, Warsh menegaskan tidak ingin memberikan "panduan ke depan" tentang apakah Fed akan menaikkan, memangkas, atau menahan suku bunga pada pertemuan mendatang.
Ia berpendapat bahwa panduan semacam itu membatasi fleksibilitas Fed karena mengikatnya pada kebijakan tertentu.
Meski begitu, Warsh mengisyaratkan bahwa suku bunga saat ini tidak membatasi aktivitas ekonomi, merujuk pada investasi bisnis yang kuat dalam peralatan AI dan infrastruktur serta belanja konsumen yang solid.
Sebagai aturan praktis, suku bunga sering kali perlu cukup tinggi untuk membatasi pinjaman dan belanja guna mendinginkan inflasi.
Fed dijadwalkan bertemu pada 15-16 September, dan pernyataan Warsh tidak serta-merta menandakan bank sentral akan menaikkan suku bunga saat itu.