Wisatawan asing yang berkunjung ke Korea Selatan kini semakin banyak memilih mendaki gunung dibandingkan mengunjungi istana bersejarah.
Tren ini terlihat jelas pada Minggu lalu ketika 11 anggota Federasi Trekking Prancis (Fédération Française de la Randonnée) mendaki Gunung Bukhan di Seoul.
>>> Panduan Seoul International Fireworks Festival 2026: Jadwal, Lokasi, dan Tips
Mereka ditemani oleh Menteri Kebudayaan Chae Hwi-young dan pendaki legendaris Um Hong-gil.
Kunjungan ini merupakan bagian dari rombongan lebih besar yang terdiri dari sekitar 40 anggota asosiasi yang sedang berwisata di Korea.
Selama tiga kali perjalanan masing-masing 11 hari, mereka tidak hanya mendaki Gunung Bukhan, tetapi juga mengunjungi Desa Rakyat Hahoe di Andong, Gunung Nam di Gyeongju, Gunung Geumjeong di Busan, Teluk Suncheon, dan mengikuti program temple stay di Kuil Hwaeom dekat Gunung Jiri.
Organisasi Pariwisata Korea (KTO) mengatur perjalanan ini sebagai bagian dari promosi wisata jalan kaki Korea.
Kegiatan ini bertepatan dengan kampanye yang diluncurkan KTO bersama Korea National Park Service pada bulan Juli.
Kampanye tersebut menargetkan total 3 juta pengunjung ke taman nasional pada tahun 2028.
Dalam inisiatif ini, pengunjung asing dapat meminjam sepatu hiking dan tongkat trekking secara gratis, serta menerima gantungan kunci sebagai suvenir di taman nasional yang berpartisipasi.
Hal ini diharapkan dapat menurunkan hambatan bagi wisatawan yang datang tanpa perlengkapan atau rencana.
Sebenarnya, hambatan tersebut sudah mulai berkurang dengan sendirinya.
Menurut Korea National Park Service, wisatawan asing menyumbang sekitar 2,05 juta kunjungan ke taman nasional Korea tahun lalu.
Gunung Halla di Pulau Jeju menjadi tujuan paling populer dengan lebih dari 270.000 kunjungan, disusul Gunung Seorak dan Gunung Bukhan.










