Namun, insiden di Jamnagar pada Maret 2024 menjadi tamparan keras. Pesawat pelatih Jaguar yang jatuh itu bukan hanya menewaskan seorang pilot, tetapi juga mengingatkan publik pada sejarah kelam MiG-21 yang kerap dijuluki "peti mati terbang" di akhir masa tugasnya. Media dan masyarakat pun mulai mempertanyakan: Apakah Jaguar akan mengulang nasib MiG-21?
Tekanan Publik dan Realitas Operasional
Sejak 2015, setidaknya 16 insiden Jaguar telah dilaporkan, meski tingkat kecelakaan per jam terbangnya lebih rendah dibanding MiG-21. Namun, faktor usia dan kesulitan perawatan semakin membebani skuadron. Masalah utama Jaguar termasuk:
- Kelangkaan suku cadang karena produksi dihentikan oleh Inggris-Prancis sejak 1985.
- Mesin Rolls-Royce Adour yang kurang bertenaga untuk misi modern.
- Sistem avionik lawas yang kalah canggih dibanding pesawat tempur generasi baru.
IAF sebenarnya telah merencanakan penggantian Jaguar dengan Tejas Mk2 atau Multi-Role Fighter Aircraft (MRFA). Namun, program ini masih dalam tahap pengembangan, memaksa Angkatan Udara untuk tetap mengandalkan Jaguar hingga setidaknya 2030.
Modernisasi: Antara Kebutuhan Mendesak dan Kendala Birokrasi
Pensiunnya MiG-21 dan kekhawatiran atas Jaguar menyoroti dilema IAF: bagaimana menjaga kesiapan tempur sambil menunggu pesawat baru. Saat ini, IAF hanya memiliki 31 skuadron dari target 42 yang disyaratkan untuk menghadapi ancaman dua front (China dan Pakistan).
Upaya modernisasi seperti pengadaan 114 Rafale tambahan dan percepatan produksi Tejas Mk1A (dengan 83 unit dipesan) masih terhambat biaya tinggi dan keterlambatan pasokan. Sementara itu, proyek AMCA (Advanced Medium Combat Aircraft)—jet siluman generasi kelima—baru akan masuk layanan pada 2030-an.
Jalan ke Depan: Belajar dari Sejarah
Insiden Jaguar di Jamnagar harus menjadi pengingat: ketergantungan pada armada tua bukan hanya risiko operasional, tetapi juga ancaman nyata bagi nyawa pilot. Pemerintah India dan IAF perlu mempercepat program modernisasi dengan: