unique visitors counter
⌂ Beranda › Hiburan › Sutradara Perfect Crown Akui Lalai dan Menangis saat Klarifikasi Kontroversi Sejarah
Hiburan

Sutradara Perfect Crown Akui Lalai dan Menangis saat Klarifikasi Kontroversi Sejarah

Sutradara Park Joon-hwa menangis saat klarifikasi kontroversi Perfect Crown
Sutradara Park Joon-hwa menangis saat klarifikasi kontroversi Perfect Crown
A A Ukuran Teks16px

Sutradara Park Joon-hwa meminta maaf sekaligus memberikan klarifikasi emosional terkait kontroversi sejarah dalam drama Perfect Crown.

Ia mengaku bahwa kesalahan adegan penobatan adalah murni kelalaian imajinasi, bukan kesengajaan untuk mendistorsi sejarah.

Dalam wawancara dengan Korea JoongAng Daily pada Rabu (20/5), Park Joon-hwa tampak emosional hingga menitikkan air mata.

Ia meluruskan polemik yang menggelinding sejak drama tersebut berakhir pada Sabtu (16/5) lalu.

Kontroversi Adegan Penobatan

Kontroversi bermula dari penayangan episode 11 pada Jumat pekan lalu.

Karakter Grand Prince I-An (Byeon Woo-seok) naik takhta mengenakan mahkota dengan sembilan untaian manik-manik, sementara para abdi istana meneriakkan kata "Cheonse!"

Detail ini memicu kemarahan publik Korea karena secara historis, mahkota sembilan untaian dan seruan "Cheonse" menandakan status wilayah bawahan.

Seharusnya, untuk menggambarkan Korea sebagai monarki berdaulat, penguasa mengenakan mahkota 12 untaian (sibi myeollyugwan) dengan seruan "Manse!"

Kritik juga diberikan untuk adegan minum teh oleh Seong Hui-ju (IU) yang dianggap meniru tata cara minum teh China.

Park menjelaskan bahwa kesalahan ini lahir dari dirinya yang kaku dalam memandang konsep sejarah alternatif.

Penjelasan Sutradara

Park Joon-hwa menyatakan siap bertanggung jawab penuh atas kelalaian tersebut.

"Dari awal hingga akhir, saya lah yang bertanggung jawab penuh atas apa yang ada di dalam drama ini," ujarnya.

Latar Perfect Crown dibangun dari fantasi fiksi tentang Korea yang tidak mengalami masa kelam seperti penjajahan Jepang (1910-1945) dan Perang Korea (1950-1953).

Park mengaku terlalu terpaku pada arahan konsultan sejarah mengenai bentuk penobatan era Joseon kuno.

Ia mengakui bahwa konsultasi dan referensi yang digunakan seluruhnya dikalibrasi pada aturan istana Joseon.

Akibatnya, ia alpa merefleksikan eksistensi Kekaisaran Korea yang berdaulat sebagai jembatan masa depan yang bahagia.

Ketika didesak mengenai detail skrip, Park mengklarifikasi bahwa seruan "Cheonse" memang ditulis oleh penulis skenario pemula, Yoo Ji-won.

Namun, detail mahkota sembilan untaian tidak tertulis secara eksplisit dalam naskah.

Hal itu murni karena keterbatasan waktu produksi sekitar satu bulan untuk menyiapkan kostum dan properti seni.

Tim produksi cenderung mereplikasi properti dari proyek-proyek drama terdahulu yang memiliki adegan serupa.

Permintaan Maaf Sebelumnya

Sebelum sutradara, tim produksi telah melayangkan permohonan maaf tertulis.

Surat permintaan maaf terbuka juga dikeluarkan oleh dua pemeran utama, IU dan Byeon Woo-seok, pada Senin (18/5).

Menurut keterangan sutradara, penulis naskah Yoo Ji-won juga berencana merilis pernyataan pribadinya secara terpisah dalam waktu dekat.

Park Joon-hwa menyayangkan kontroversi ini karena Perfect Crown mencetak rating di atas 13 persen.

Drama ini juga menjadi judul drama Korea global yang paling banyak ditonton di platform Disney+ dalam 28 hari pertama perilisannya.

Sementara itu, Park Joon-hwa yang sebelumnya dikenal lewat Alchemy of Souls dan Because This is My First Life menyatakan belum memiliki rencana mengambil proyek drama baru.

Park Joon-hwa menegaskan bahwa dirinya siap pasang badan dan menanggung seluruh konsekuensi dari kelalaian tersebut secara jantan.

Ia menambahkan bahwa dirinya merasa harus menghadapi dan meluruskan langsung berbagai kritik yang muncul ke permukaan akibat ketidakmampuannya dalam mengawal detail estetika produksi.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru