Rusia meluncurkan gelombang rudal dan drone ke Ukraina pada Senin dini hari, menewaskan sedikitnya 18 orang.
Serangan ini mengekspos celah yang semakin lebar dalam pertahanan udara negara tersebut, menurut otoritas setempat.
>>> DPRD Kabupaten Tangerang: Perpres Bisa Jadi Dasar Perda Anti-LGBTQ
Semua rudal balistik yang diluncurkan Rusia berhasil mencapai sasaran.
Hal ini menekankan kebutuhan Ukraina akan lebih banyak rudal pencegat Patriot, yang kemungkinan akan kembali disuarakan Presiden Volodymyr Zelenskyy di KTT NATO di Ankara, Turki, pekan ini.
Sebanyak 12 orang tewas di ibu kota Kyiv, yang menjadi target utama Rusia. Enam lainnya tewas di wilayah Kyiv yang lebih luas, kata kepala daerah Mykola Kalashnyk.
Setidaknya 60 orang terluka, menurut Zelenskyy.
Tim penyelamat masih menyisir puing-puing bangunan tempat tinggal bertingkat yang terkena serangan langsung di dua lokasi di ibu kota.
>>> Mobil Terbakar Usai Isi BBM di SPBU Kampung Utan, Tangsel
Beberapa hari sebelumnya, pada Kamis, serangan Rusia menewaskan 31 orang di Kyiv, yang merupakan yang paling mematikan bagi ibu kota tahun ini.
Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan pemboman itu sebagai balasan atas serangan jarak jauh Ukraina yang menyebabkan kekurangan bahan bakar parah dan menekan Presiden Vladimir Putin.
Lebih dari empat tahun setelah invasi skala penuh, kemajuan Ukraina dalam teknologi drone telah memberi keunggulan dalam beberapa bulan terakhir.
Namun, Rusia kini mengeksploitasi kerentanan pertahanan udara Ukraina yang sangat bergantung pada sistem Patriot AS untuk mencegat rudal balistik.
>>> Kemenaker Perluas Cakupan Peserta Magang Nasional, Lulusan Profesi dan Disabilitas Masuk
Perang di Timur Tengah telah membebani pasokan pencegat Patriot global yang sudah diproduksi dalam jumlah terbatas. Kekurangan ini paling terasa di Ukraina.
