Lee adalah penulis buku “BTS and ARMY Culture” (2019) yang telah diterbitkan di tujuh negara.
Lee juga seorang ARMY, sehingga ia mengamati komunitas sebagai anggota di dalamnya. Konferensi yang diselenggarakan International Society for BTS Studies itu menghadirkan 50 presenter dari 10 negara.
Dalam pidatonya, Lee membahas signifikansi budaya dari “babak baru” BTS pasca wajib militer.
Menurutnya, fenomena BTS dan ARMY telah membuka area penelitian interdisipliner baru di luar paradigma rasionalis Barat, termasuk kajian postkolonial, studi afek, kewarganegaraan, dan hubungan internasional.
Lee menilai BTS bukan lagi sekadar grup K-pop sukses.
Grup dan fandomnya telah menjadi studi kasus berharga untuk memahami bagaimana komunitas terbentuk, berevolusi, dan bertahan di dunia digital yang semakin terhubung.
Sebelum pandemi, BTS dianggap sebagai kelompok pinggiran dengan fandom yang kuat namun bersifat niche di luar Asia.
Pandemi mengubah persepsi itu dan mengukuhkan BTS di pasar musik arus utama. Proyek solo para anggota selama masa hiatus militer juga memperkuat artistry individu mereka.
>>> Putri Temon Kenang Percakapan Terakhir Sebelum Sang Ayah Wafat
“Dalam hal ketenaran dan antisipasi, grup ini kini memiliki posisi yang bisa disebut nomor satu global,” kata Lee.
Peningkatan jumlah pendengar kasual yang menjadi ARMY memang mendiversifikasi minat dan tuntutan penggemar, namun hubungan spiritual yang dialami penggemar tetap tidak berubah.
AI dan Masa Depan Fandom
Komunitas ARMY kini memasuki fase baru seiring kecerdasan buatan generatif (AI) mengubah budaya daring.
Sesi konferensi tahun ini membahas deepfake buatan AI, misinformasi, dan peran komunitas penggemar dalam memverifikasi informasi tentang artis.
Lee tidak melihat teknologi sebagai sesuatu yang secara inheren bermanfaat atau berbahaya.
