Perseroan memanfaatkan data analytics dalam proses pengambilan keputusan bisnis. Pendekatan berbasis data memperkuat pengelolaan risiko kredit, pasar, likuiditas, operasional, hingga teknologi informasi.
>>> Dua WNI Diduga Disekap di Myanmar, Minta Tebusan Rp220 Juta
BTN turut mengintegrasikan aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) ke dalam kerangka manajemen risiko. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam membangun bisnis yang berkelanjutan.
Penguatan sistem dibarengi dengan pembangunan budaya risiko di seluruh jenjang organisasi. BTN terus meningkatkan kompetensi SDM, memperkuat governance, serta menginternalisasi prinsip kehati-hatian.
"Risk culture merupakan fondasi penting bagi organisasi yang ingin tumbuh secara berkelanjutan.
Ketika seluruh insan perusahaan memiliki kesadaran risiko yang kuat, maka organisasi akan lebih cepat beradaptasi terhadap perubahan," ujar Setiyo.
Implementasi transformasi tersebut memberikan dampak nyata terhadap kinerja BTN sepanjang Semester I 2026. Perseroan mencatatkan pertumbuhan bisnis yang sehat dengan kualitas aset yang semakin baik.
BTN membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp2,40 triliun atau meningkat 40,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,70 triliun.
Penyaluran kredit dan pembiayaan tumbuh 13,2 persen menjadi Rp418,11 triliun. Total aset perusahaan meningkat 8,5 persen menjadi Rp545,16 triliun.
Rasio Non Performing Loan (NPL) berhasil ditekan menjadi 2,99 persen dari sebelumnya 3,30 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp398,73 triliun atau meningkat 6,5 persen.
Transformasi manajemen risiko juga menjadi fondasi penting dalam mendukung arah pengembangan BTN menuju bank beyond mortgage di bawah arahan Danantara Indonesia.
Setiyo menambahkan, BTN akan terus memperkuat kapabilitas manajemen risiko melalui pemanfaatan teknologi digital, data analytics, serta artificial intelligence.
>>> Contoh Soal Profiling ASN 2026 Terbaru, Kunci Sukses Hadapi Asesmen Tahun Ini
"Ke depan, kami akan terus memperkuat kapabilitas manajemen risiko yang semakin forward-looking melalui pemanfaatan data, digital technology, dan artificial intelligence, serta terus memperkuat budaya risiko di seluruh organisasi," imbuhnya.
