unique visitors counter
⌂ Beranda News Rimini Street: AI Bukan Titik Awal Transformasi Digital

Rimini Street: AI Bukan Titik Awal Transformasi Digital

Rimini Street: AI Bukan Titik Awal Transformasi Digital
Ilustrasi: Rimini Street: AI Bukan Titik Awal Transformasi Digital
A A Ukuran Teks16px

Perlombaan mengadopsi kecerdasan buatan (AI) telah mengubah prioritas investasi perusahaan.

Namun, menurut Rimini Street, kunci transformasi bukan pada seberapa cepat AI diadopsi, melainkan kemampuan memaksimalkan investasi teknologi yang sudah dimiliki.

>>> Lalu Ahmad Zaini, Bupati Lombok Barat yang Terjaring OTT KPK

Banyak organisasi masih mengukur transformasi digital berdasarkan besarnya proyek teknologi.

Mereka kerap memandang AI sebagai titik awal dan menganggap modernisasi harus dimulai dengan mengganti sistem ERP yang telah digunakan bertahun-tahun.

Padahal, implementasi AI akan lebih optimal jika didahului perbaikan proses bisnis, optimalisasi sistem ERP, dan otomatisasi operasional.

Rimini Street mendorong pendekatan bertahap: perbaiki proses yang belum efisien, otomatisasi yang sudah berjalan, baru integrasikan AI.

Optimalkan Biaya, Ciptakan Ruang Investasi Baru

Di tengah meningkatnya investasi AI, perusahaan tidak selalu perlu memperbesar anggaran teknologi.

Rimini Street percaya bahwa optimalisasi biaya operasional TI dan memaksimalkan nilai sistem yang ada dapat menciptakan ruang investasi baru.

“Dengan pendekatan tersebut, perusahaan dapat mengalihkan sumber daya menuju proyek-proyek strategis seperti AI, otomatisasi, dan analisis data,” ujar Seth Ravin, CEO Rimini Street.

Hasilnya, transformasi digital berjalan lebih cepat dengan pengembalian investasi yang lebih terukur.

Indonesia Mulai Terapkan Pendekatan Terukur

Menurut Seth, perusahaan di Indonesia kini mengadopsi transformasi digital yang lebih terukur. Fokusnya bukan hanya pada teknologi terbaru, tetapi pada peningkatan produktivitas dan nilai nyata bagi organisasi.

Perubahan ini dipengaruhi tekanan adopsi AI di tengah ekonomi yang dinamis. Alih-alih investasi besar-besaran, banyak organisasi lebih selektif dengan mengoptimalkan aset yang ada sebelum mengalokasikan anggaran baru.

Seth menambahkan, tren ini sejalan dengan perkembangan di Asia Tenggara. Dengan mengurangi biaya operasional TI, organisasi dapat mendanai proyek strategis tanpa meningkatkan belanja TI secara signifikan.

R
Tim Redaksi
Penulis: Retno Widyawati
📰 Update Terbaru
stikibot