"Situasi ini sangat mendesak. Daya tampungnya sudah mencapai atau bahkan melebihi batas," ujarnya.
Evan George dari Emmett Institute on Climate Change and the Environment UCLA mengatakan mengurangi sampah organik yang masuk ke TPA bisa menurunkan emisi, tetapi TPA yang ada masih memerlukan pemantauan dan pengumpulan gas selama puluhan tahun.
Mengubah Budaya Buang Jakarta
Di bawah pendekatan baru, warga Jakarta diminta memisahkan sisa makanan dan sampah organik dari barang daur ulang dan sampah residu sebelum dikumpulkan.
Pabrik refuse-derived fuel juga menjadi bagian dari rencana.
Asikin mengatakan apa yang dilakukan agak revolusioner karena selama puluhan tahun warga tidak pernah diminta memilah sampah.
Namun, banyak rumah tangga baru mulai belajar sistem ini, menimbulkan pertanyaan tentang sosialisasi yang memadai.
Rukasih Wanti, warga Jakarta Pusat, mengatakan yang ia tahu hanya membuang sampah ke tempat sampah, bukan memilahnya. "Aturan baru ini membingungkan kami.
Tidak nyaman, menambah pekerjaan, dan membuang waktu," katanya.
David Sutasurya, direktur eksekutif organisasi lingkungan YPBB, mengatakan sekitar setengah sampah Jakarta dapat dikomposkan dan 30 persen lagi dapat didaur ulang, sehingga hingga 80 persen bisa dijauhkan dari TPA.
"Kami terlalu lama menunda transformasi sistem pengelolaan sampah, dan baru menyadari masalah saat TPA hampir penuh," ujarnya.
Di sebuah lingkungan di Jakarta Barat, Monica T. Anggriani telah menghabiskan lebih dari satu dekade membujuk tetangga untuk memilah sampah rumah tangga.
Ia membangun bank sampah komunitas yang kini mengolah sekitar satu ton sampah organik setiap hari melalui pengomposan, budidaya maggot, dan pertanian perkotaan.
>>> Pasar Cermati Arah Kebijakan Moneter Usai Perry Warjiyo Mundur
"Generasi kami tidak pernah diajari memilah sampah. Jika tidak mulai sekarang, tidak akan ada perubahan di masa depan," kata Anggriani.
