Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Minggu (2/8/2026) mengungkapkan bahwa ia memutuskan untuk menunda perintah serangan baru terhadap Iran.
Keputusan ini diambil setelah mendapat desakan dari sekutu Teluk, yaitu Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
>>> Bantuan Pangan Beras Tahap Dua Disalurkan Mulai 17 Agustus 2026
Trump sebelumnya menyatakan rencana serangan terbesar sejak Perang Dunia II akan dilakukan pada Minggu.
Namun, rencana itu batal demi memberi peluang diplomasi, setelah mendengar masukan dari para pemimpin Teluk, termasuk Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman, serta permintaan dari pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya.
"Saya bertanya kepada putra mahkota, 'Apa yang lebih Anda inginkan? Apakah Anda lebih suka kami melakukan ini atau tidak?'"
kata Trump kepada wartawan di Air Force One.
"Mereka berkata kami lebih memilih kesepakatan daripada serangan, karena Anda tidak tahu ke mana serangan itu akan berujung."
Trump dan putra mahkota berbicara pada Sabtu (1/8/2026) sebelum presiden AS mengumumkan di media sosial bahwa sekutu Timur Tengah telah mencapai "parameter" kesepakatan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lima bulan.
Ini merupakan perubahan sikap Trump yang sehari sebelumnya mengaku "kehilangan kepercayaan" pada negosiasi dengan Iran dan memberi peringatan bahwa militer AS "akan menghantam mereka dengan sangat keras."
Isi Kesepakatan yang Sedang Dibahas
Trump pada Minggu menegaskan bahwa kesepakatan yang muncul akan mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur air penting yang sebelumnya dilalui sekitar seperlima minyak dan gas bumi yang diperdagangkan.
Kesepakatan itu juga akan menyelesaikan kekhawatiran AS tentang program nuklir Iran.
Iran telah berulang kali menyerang kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz tanpa izinnya sebagai bagian dari konflik dengan AS.
