Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, pada Minggu mengatakan bahwa Selat Hormuz "tidak akan kembali ke status sebelum 28 Februari," hari dimulainya perang.
Dalam wawancara dengan TV pemerintah Iran, Baghaei menambahkan bahwa Iran sedang membahas pengiriman melalui selat tersebut dengan Oman, tetapi belum ada pembicaraan tentang pembukaan kembali jalur air penting itu.
Usulan Terbaru Bawa Kedua Belah Pihak ke Negosiasi
Trump pada Minggu mengatakan dia memperkirakan negosiasi akan dilanjutkan "besok sore," tetapi tidak merinci siapa yang akan terlibat.
>>> Penerima BPJS Ketenagakerjaan Tetap Berhak Mendapat Bansos Pemerintah
Seorang pejabat regional yang terlibat dalam mediasi mengatakan proposal yang diumumkan Trump menyerukan AS dan Iran kembali ke meja perundingan untuk membahas berbagai masalah yang selama ini menghambat kemajuan.
Pejabat tersebut, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan proposal itu mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian serangan di kawasan, termasuk oleh milisi pro-Iran di Irak, negara-negara Teluk Arab, dan Yordania.
Sebagai imbalannya, AS akan mengakhiri blokade laut dan mengizinkan Iran mengekspor minyaknya, sesuai kesepakatan gencatan senjata sementara.
Belum ada kesepakatan final, tetapi upaya mediasi sedang berlangsung.
Trump juga mengatakan Israel bergabung dalam komitmennya untuk mengakhiri perang dengan menerapkan kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pada Juni.
Israel belum memberikan komentar publik.
Kekhawatiran Arab Saudi tentang Balasan Iran
Putra Mahkota Mohammed, penguasa de facto kerajaan, menyampaikan kekhawatiran tentang potensi eskalasi konflik saat berbicara dengan Trump melalui telepon pada Sabtu.
Panggilan itu bersifat "terus terang dan konstruktif," menurut seseorang yang mengetahui isi panggilan tersebut.
Putra mahkota menyampaikan bahwa eskalasi pertempuran dapat berdampak parah pada ekonomi global jika Teheran merespons serangan baru AS dengan menargetkan sekutu-sekutu AS di Teluk.
Panggilan itu terjadi sebelum pengumuman Trump di media sosial.
Pejabat Saudi juga menekankan bahwa kerajaan, serta UEA dan Qatar, mampu bertahan dari potensi serangan Iran, tetapi Kuwait mungkin lebih rentan terhadap serangan milisi pro-Iran di Irak.
Trump mengisyaratkan bahwa percakapannya dengan putra mahkota Saudi sangat memengaruhi keputusannya untuk membatalkan serangan.
"Itu akan menjadi bencana bagi mereka. Dan mereka tidak ingin kami melakukannya," kata Trump.
>>> Jepang dan AS Konfirmasi Intervensi Bersama Beli Yen, Sinyalkan Aksi Lanjutan
"Dan terus terang, Arab Saudi juga tidak menginginkannya. Mereka pikir kesepakatan sudah dekat."
