unique visitors counter
⌂ Beranda Hiburan Fenomena 'Silver ARMY': Penggemar BTS Senior Ubah Wajah Fandom K-Pop

Fenomena 'Silver ARMY': Penggemar BTS Senior Ubah Wajah Fandom K-Pop

Fenomena 'Silver ARMY': Penggemar BTS Senior Ubah Wajah Fandom K-Pop
Ilustrasi: Fenomena 'Silver ARMY': Penggemar BTS Senior Ubah Wajah Fandom K-Pop
A A Ukuran Teks16px

Fenomena 'Silver ARMY', sebutan untuk penggemar BTS yang lebih tua, semakin menonjol dalam lanskap fandom K-Pop global. Mereka tidak lagi sekadar penonton pasif, tetapi aktif membentuk budaya penggemar.

Vicki Ronn, profesor bahasa Inggris di Friends University yang berusia 60-an, adalah salah satu contohnya.

>>> Redmi Note 17 Pro Max Muncul di Geekbench, Ungkap Snapdragon 6 Gen 5 dan RAM 8GB

Ia mulai menyukai BTS pada 2020 setelah menonton penampilan mereka di 'The Tonight Show Starring Jimmy Fallon'.

Ronn hadir dalam Konferensi BTS Internasional ke-5 di Universitas Nasional Jeonbuk, Korea Selatan, untuk mempresentasikan penelitian tentang penggemar senior.

Ia menyoroti bagaimana BTS mengubah hidup penggemar tua dan membangun hubungan sosial baru.

Penggemar Senior Jadi Partisipan Aktif

Ronn memperkenalkan Dori Jacobson, warga Las Vegas berusia 89 tahun, sebagai contoh 'Silver ARMY'. Jacobson sempat viral dengan papan bertuliskan ajakan untuk tetap kuat menunggu BTS kembali.

Kasus Jacobson menunjukkan bahwa penggemar tua tidak hanya menikmati musik, tetapi juga menghibur dan menguatkan penggemar lain. Mereka menjadi partisipan aktif dalam komunitas.

Grace Kao, profesor sosiologi di Universitas Yale, mengamati banyak penonton berusia 50-an ke atas di konser BTS.

>>> Ketenaran RESCENE dan Harga di Balik Sorotan Media

Menurutnya, penggemar paruh baya memiliki waktu dan dana untuk bepergian, serta melihat K-Pop sebagai alternatif yang sehat.

Mengapa Penggemar Senior Memilih BTS?

Ronn menilai BTS menawarkan narasi universal yang melintasi generasi, berbeda dengan artis lokal seperti Taylor Swift yang lebih banyak bercerita tentang masa muda.

Lagu 'Fake Love' sangat menyentuh Ronn karena menggambarkan tekanan sosial untuk menyembunyikan jati diri, yang dialami wanita generasinya.

Ia merasa BTS lebih relevan bagi wanita seusianya.

Fenomena ini juga terlihat di Asia. Anujin Mungunkhu, pelajar Mongolia berusia 17 tahun, mengaku lagu 'Life Goes On' membantunya mengatasi kecemasan.

Profesor Tsengel Davaasambuu menambahkan bahwa pesan BTS 'percaya pada diri sendiri' sangat beresonansi dengan remaja Mongolia yang menghadapi perubahan sosial besar.

>>> Skizofrenia, Keluarga, dan Pilihan yang Memilukan dalam Dokumenter Jepang

Dengan demikian, 'Silver ARMY' tidak hanya mengubah demografi penggemar, tetapi juga memperluas makna fandom K-Pop sebagai ruang inklusif bagi segala usia.

D
Tim Redaksi
Penulis: Dwi Andini
📰 Update Terbaru
stikibot