Kolombia memasuki masa berkabung tiga hari pada Rabu (13/8) untuk para korban gempa bumi yang menewaskan 239 orang.
Tim penyelamat menyebut upaya pencarian korban selamat telah memasuki fase akhir.
>>> Satpol PP Tangerang Bagikan 500 Bendera untuk Sambut HUT ke-81 RI
Gempa berkekuatan 7,4 magnitudo yang terjadi pada Senin (10/8) itu merupakan yang terkuat di Kolombia dalam seabad terakhir.
Bencana ini meluluhlantakkan wilayah barat yang dikenal sebagai daerah penghasil kopi.
Badan penanggulangan bencana nasional melaporkan sedikitnya 3.700 keluarga kehilangan tempat tinggal. Pemerintah memerintahkan pengibaran bendera setengah tiang di gedung-gedung resmi dan kedutaan besar Kolombia di luar negeri.
Fase Kritis 72 Jam
Wali Kota Cali, Alejandro Eder, mengatakan tim penyelamat memasuki fase akhir dari periode 72 jam pertama.
Rentang waktu tersebut dianggap sebagai peluang terbesar untuk menemukan korban selamat di bawah reruntuhan.
Meski peluang semakin kecil, para relawan dan petugas belum menyerah. Mereka terus bekerja dengan crane, anjing pelacak, dan alat berat di kota Pereira dan Cali.
Relawan juga membentuk rantai manusia untuk membersihkan puing-puing secara manual.
Sekitar 2.595 orang dilaporkan terluka dan 195 lainnya masih hilang.
Di Pereira, seorang wanita bernama Daniela Largo (32) berhasil dievakuasi dari reruntuhan hotel setelah terperangkap selama 35 jam.
Ibunya, Sandra Milena Perez, mengungkapkan rasa syukur karena putrinya selamat. Seorang warga setempat mendengar teriakan minta tolong dan membantu membersihkan puing sebelum tim profesional tiba.
>>> Polda Metro: Pengunjung, Bukan Panitia, di Balik Tantangan Ad-Duha
Duka dan Solidaritas
Banyak warga menghabiskan malam kedua di luar rumah karena rumah mereka rusak atau takut akan gempa susulan.
Sebuah taman di Pereira disulap menjadi tempat penampungan darurat dengan tenda dan kasur.
