Terpilih dalam Michelin Guide Bib Gourmand, Gwanghwamun Gukbap memerlukan kedatangan awal. Restoran buka pukul 11.00, dan reputasinya membuat pengunjung rela mengantre demi semangkuk sup hangat.
Meskipun kaldu gurih dan daging babi empuk seharga 12.000 won memuaskan, alasan historis yang diberikan AI ternyata fiktif.
Dwaeji gukbap bukan makanan pokok Seoul pada pergantian abad; hidangan ini populer beberapa dekade kemudian, dibawa oleh pengungsi selama Perang Korea 1950-1953.
Seabad lalu, warga Seoul lebih sering mengunjungi restoran seolleongtang (sup tulang sapi) yang sudah lama berdiri.
Restoran tertua di kota ini adalah Imun Seolnongtang, yang diyakini didirikan pada 1904.
Jalan-Jalan Sore di Jeongdong-gil dengan Kostum Retro
Selanjutnya, algoritme menyarankan berjalan di Jeongdong-gil, jalan yang dipenuhi bangunan bata merah abad ke-19 dan awal abad ke-20, sambil mengenakan pakaian sewaan.
AI bahkan merekomendasikan beberapa butik di Jeong-dong dan Ikseon-dong dengan harga sewa 30.000-40.000 won untuk tiga jam.
Namun, kenyataan di lapangan berbeda.
Dari lima alamat penyewaan yang diberikan AI, hampir semua toko penyewaan kostum era Pencerahan di dekat istana telah tutup.
Platform besar seperti Google dan Naver pun tidak memperbarui daftar bisnis mereka.
Meskipun kedua mesin pencari masih menandai toko sebagai buka, di lokasi hanya ditemukan pintu tertutup, ruang kosong, atau bisnis lain.
Tren mengenakan gaun renda dan setelan awal 1900-an menurun drastis pasca-pandemi COVID-19.
Ini menjadi pelajaran tentang keterbatasan AI: model pembelajaran mesin mudah salah mengira kegemaran media sosial masa lalu sebagai realitas toko saat ini.
Museum Peringatan Appenzeller Noble
Melanjutkan perjalanan di Jeongdong-gil, kami tiba di Museum Peringatan Appenzeller Noble, yang terletak di bekas Balai Timur Paichai Hakdang.
