unique visitors counter
⌂ Beranda News Misteri Karhutla Kalimantan yang Tak Kunjung Padam: Dari Tragedi 1982 hingga Ancaman Ekstrem 2026, Apa Penyebab Sebenarnya?
News

Misteri Karhutla Kalimantan yang Tak Kunjung Padam: Dari Tragedi 1982 hingga Ancaman Ekstrem 2026, Apa Penyebab Sebenarnya?

Misteri Karhutla Kalimantan yang Tak Kunjung Padam: Dari Tragedi 1982 hingga Ancaman Ekstrem 2026, Apa Penyebab Sebenarnya?
Kebakaran Hutan di Kanada Barat Meluas, 20.000 Orang Mengungsi
A A Ukuran Teks16px

2015: Tahun Terkelam dalam Catatan Karhutla Kalimantan

Jika 1982 adalah awal mula, maka tahun 2015 menjadi babak paling kelam. Dalam sebuah laporan studi komprehensif yang disusun oleh Annisa Musrifatun Nur'Aini dan Athaya Putri Tatia Ananta dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 2025, yang kemudian diterbitkan dalam portal literasi sejarah bencana BNPB, karhutla tahun 2015 disebut sebagai salah satu yang paling parah dampaknya.
 
Pada tahun tersebut, sekitar 2,6 juta hektar lahan dan hutan di Kalimantan ludes dilahap si jago merah. Namun, kerugian tidak hanya diukur dari luas lahan. Insiden ini memakan puluhan korban jiwa secara langsung dan tidak langsung, serta memicu ratusan ribu kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang membanjiri fasilitas kesehatan di wilayah terdampak. Kabut asap tebal bahkan menutupi Bandara Internasional, melumpuhkan transportasi udara selama berhari-hari.
 

Akar Masalah: Ketika Manusia Menjadi Pemicu Utama

Berbagai kajian ilmiah dan laporan lapangan secara konsisten menyorot satu kesimpulan utama: sebagian besar karhutla di Indonesia, khususnya di Kalimantan, dipicu oleh aktivitas manusia, bukan murni bencana alam.
 
Praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar (slash and burn) masih menjadi metode murah dan cepat yang digunakan oleh segelintir oknum, baik perusahaan perkebunan maupun masyarakat setempat. Selain itu, kanalisasi atau pembuatan saluran air di lahan gambut secara masif telah mengeringkan ekosistem yang seharusnya basah.
 
Lahan gambut yang kering sangat rentan terhadap subsurface fire atau kebakaran bawah tanah. Jenis kebakaran ini sangat sulit dideteksi dan hampir mustahil dipadamkan dengan metode konvensional, karena api menjalar di bawah permukaan tanah yang kaya karbon, terus menyala hingga ke akar-akar vegetasi.
 
Tidak berhenti di situ, aktivitas pembalakan liar dan konversi lahan hutan menjadi area perkebunan atau pertambangan secara masif turut memperburuk kondisi lapangan. Hilangnya tutupan vegetasi hutan secara signifikan mengganggu mikroklimat setempat. Tanpa pepohonan yang menahan kelembapan, udara di area ekosistem tersebut menjadi jauh lebih kering, panas, dan sangat rentan terhadap percikan api sekecil apa pun.

📰 Update Terbaru
stikibot