Beijing meminta warga negaranya untuk segera meninggalkan Eswatini, negara di Afrika yang masih menjalin hubungan diplomatik dengan Taiwan.
Imbauan ini disampaikan karena adanya risiko keamanan di negara tersebut.
>>> Polri Siap Kawal Demo 27 Agustus, Imbau Massa Jaga Ketertiban dan Waspada Hoaks
Departemen Konsuler Kementerian Luar Negeri China pada Selasa mengeluarkan pernyataan yang meminta warga dan institusi China di Eswatini untuk mengungsi secepatnya atau pindah ke area yang lebih aman seperti Afrika Selatan.
Pernyataan itu menyebutkan adanya kejahatan siber dan perjudian online yang merajalela sebagai salah satu kekhawatiran keamanan yang berkelanjutan.
Mereka yang tetap tinggal akan menghadapi risiko keamanan yang sangat tinggi.
Pemerintah Eswatini pada Rabu menanggapi bahwa klaim risiko keamanan tersebut tidak berdasar dan disesalkan. Mereka menegaskan bahwa pernyataan China tidak didukung oleh fakta.
Eswatini, yang sebelumnya dikenal sebagai Swaziland, adalah salah satu dari 12 negara yang masih mengakui Taiwan.
China mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan menentang upaya internasional pulau tersebut.
>>> Operasional KRL dan Transjakarta Saat Demo DPR 27 Agustus 2026, Ini Update Terbaru
Ketegangan meningkat setelah Presiden Taiwan Lai Ching-te mengunjungi Eswatini pada Mei lalu. Taipei menuduh Beijing berusaha menggagalkan kunjungan itu dengan menekan negara-negara tetangga untuk mencabut izin terbang.
Sumber dari kementerian perdagangan Eswatini menyebutkan ada lebih dari 200 warga China di negara itu, yang bekerja di sektor tekstil, ritel, dan restoran.
Tahun ini, pihak berwenang Eswatini menangkap sekitar 200 warga asing, termasuk 55 warga China, dalam operasi penindakan jaringan perjudian online ilegal dan penipuan siber.
Pemerintah Eswatini menegaskan bahwa penangkapan tersebut justru menunjukkan kewaspadaan dan efektivitas lembaga penegak hukum mereka.
Mereka juga menyatakan tidak akan dipaksa, dirugikan, atau digoyahkan oleh pilihan kebijakan luar negeri dan hubungan diplomatiknya.
Pada 1 Mei lalu, China memperluas kebijakan bea masuk nol persen ke semua negara Afrika kecuali Eswatini.
>>> 8 WNI Hilang dan 10 Terjebak Banjir di Nepal, Tim SAR Dikerahkan
Langkah ini dianggap sebagai tekanan diplomatik terhadap negara yang masih bersekutu dengan Taiwan.