unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Kabar Duka dari Oslo: Raja Norwegia Harald V Wafat di Usia 89 Tahun, Mengenang Akhir Era 'Raja untuk Rakyat'
News

Kabar Duka dari Oslo: Raja Norwegia Harald V Wafat di Usia 89 Tahun, Mengenang Akhir Era 'Raja untuk Rakyat'

Kabar Duka dari Oslo: Raja Norwegia Harald V Wafat di Usia 89 Tahun, Mengenang Akhir Era 'Raja untuk Rakyat'
Harlan • Instagram
A A Ukuran Teks16px

Bangsa Norwegia tengah berduka. Raja Harald V, sosok pemimpin yang telah menjadi simbol persatuan dan modernisasi monarki Norwegia selama lebih dari tiga dekade, telah meninggal dunia pada Jumat, 28 Agustus 2026. Ia tutup usia di usianya yang ke-89 tahun.

Kabar duka ini dikonfirmasi langsung oleh Istana Kerajaan Norwegia di Oslo. Dilansir dari BBC dan AFP, Raja Harald mengembuskan napas terakhirnya dengan tenang pada Jumat pagi, sekitar pukul 06.35 waktu setempat, di Rumah Sakit Nasional Oslo (Rikshospitalet).

Kepergian sang raja menandai berakhirnya era kepemimpinan monarki yang dikenal sangat dekat dengan rakyatnya, sekaligus membuka babak baru bagi suksesi takhta Kerajaan Norwegia.

Detik-Detik Kepulangan dan Duka Warga Norwegia

Dalam 24 jam terakhir menjelang kepulangannya, suasana di sekitar rumah sakit dan istana dipenuhi oleh aura duka yang mendalam. Anggota keluarga kerajaan tampak silih berganti menjaga di sisi sang raja.

Putra Mahkota Haakon (53 tahun), beserta istrinya, Putri Mahkota Mette-Marit, dan kedua anak mereka, tampak bolak-balik menuju rumah sakit untuk memberikan dukungan terakhir.

Sementara itu, di luar Istana Kerajaan (Det kongelige slott) di pusat kota Oslo, ratusan masyarakat Norwegia dari berbagai lapisan usia berkumpul dalam hening. Banyak dari mereka yang menitikkan air mata sembari meletakkan karangan bunga, bendera setengah tiang, dan surat duka cita di depan gerbang istana sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada sosok yang mereka sebut sebagai "Kakek dari Bangsa Norwegia".

Perjuangan Melawan Kelainan Darah Langka

Sebelum menghembuskan napas terakhir, Raja Harald telah berjuang melawan penyakit yang menggerogoti fisiknya. Ia dirawat secara intensif di rumah sakit sejak 17 Agustus 2026 akibat menderita anemia hemolitik.

Kondisi medis ini merupakan kelainan darah yang langka, di mana sistem kekebalan tubuh secara tidak wajar menghancurkan sel darah merah jauh lebih cepat daripada kemampuan tubuh untuk memproduksinya. Kondisi ini menyebabkan sang raja mengalami kelelahan ekstrem hingga sesak napas.

Sehari sebelum meninggal, yakni pada Kamis (27/8) sore, Istana Kerajaan merilis pernyataan yang mengindikasikan bahwa kondisi sang raja telah memasuki fase kritis. "Kondisi kesehatan Raja sangat serius dan tidak berubah," bunyi pernyataan resmi istana kala itu, yang menjadi pertanda bahwa akhir dari perjuangan sang raja tinggal menunggu waktu.

Raja Pertama Lahir di Norwegia dalam 6 Abad

Kepergian Raja Harald V bukan hanya kehilangan bagi keluarga kerajaan, tetapi juga bagi sejarah identitas nasional Norwegia. Harald memegang rekor sejarah yang sangat penting: ia adalah raja pertama yang lahir di tanah Norwegia sejak abad ke-14, atau lebih dari 600 tahun silam.

Selama 35 tahun bertakhta sejak menggantikan ayahnya, Raja Olav V, pada tahun 1991, Harald berhasil membawa monarki Norwegia beradaptasi dengan zaman. Ia dikenal sebagai sosok visioner yang merombak citra istana yang kaku menjadi lebih terbuka, egaliter, dan relevan dengan masyarakat modern.

Mendobrak Tradisi dan Julukan 'Raja untuk Rakyat'

Salah satu warisan terbesar Harald adalah keberaniannya mendobrak tradisi kaku kerajaan. Pada tahun 1968, ia menikahi Sonja Haraldsen, seorang perempuan dari kalangan rakyat biasa. Pernikahan yang sempat menuai kontroversi dan perdebatan panjang di parlemen kala itu, kini justru menjadi simbol bahwa monarki Norwegia adalah institusi yang merangkul seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya elit aristokrat.

(Catatan Redaksi: Meskipun belakangan keluarga kerajaan diuji oleh skandal yang melibatkan menantunya, Mette-Marit, Harald-lah yang lebih dulu membuka jalan bagi pernikahan lintas kelas sosial dalam keluarga kerajaan modern Norwegia bersama Ratu Sonja).

Karena sifatnya yang bersahaja, rendah hati, dan selalu hadir di saat rakyatnya membutuhkan, para pengamat kerajaan dan warga Norwegia menganugerahinya julukan "Folkekongen" atau "Raja untuk Rakyat". Gelar ini sebelumnya juga disandang oleh mendiang ayahnya, Raja Olav V.

Momen yang paling mengukuhkan julukan tersebut terjadi pada tahun 2011, ketika Norwegia diguncang tragedi serangan bom di Oslo dan penembakan massal di pulau Utøya yang menewaskan 77 orang. Dalam pidato yang sangat emosional dan melegenda, Raja Harald menyerukan agar rakyatnya tidak membiarkan rasa takut menguasai diri, dan saling bergandengan tangan dalam perbedaan.

Bayang-Bayang Skandal di Masa Senja

Meski warisan sang raja sangat gemilang, tahun-tahun terakhir masa hidupnya harus diwarnai oleh tantangan berat di dalam lingkaran keluarga besarnya. Di balik sorotan cinta dari rakyatnya, istana harus menghadapi serangkaian skandal dan masalah hukum yang menguji ketahanan mental keluarga kerajaan.

Publik sempat dikejutkan oleh terungkapnya nama Putri Mahkota Mette-Marit dalam dokumen pengadilan terkait kasus kejahatan seksual yang melibatkan miliarder Amerika Serikat, Jeffrey Epstein. Tak hanya itu, istana juga harus menelan pil pahit ketika Marius Borg Høiby, putra tertua Mette-Marit dari hubungan sebelumnya, terseret dalam kasus hukum berat berupa tuduhan pemerkosaan.

Meski berbagai badai kontroversi menerpa menantu dan cucu tirinya, Raja Harald V tetap mempertahankan posisinya sebagai jangkar moral dan pemersatu bangsa hingga hari-hari terakhirnya.

Estafet Kepemimpinan untuk Putra Mahkota Haakon

Dengan wafatnya Raja Harald V, estafet takhta Kerajaan Norwegia kini resmi beralih kepada putranya, Putra Mahkota Haakon. Haakon, yang telah dipersiapkan selama puluhan tahun, kini menghadapi tugas berat untuk tidak hanya memimpin negara, tetapi juga mengisi sepatu besar ayahnya yang sangat dicintai, sembari memulihkan citra keluarga dari bayang-bayang skandal belakangan ini.

Upacara pemakaman kenegaraan dan detail suksesi takhta akan diumumkan oleh Istana Kerajaan Norwegia dalam waktu dekat. Bagi warga Norwegia, Jumat, 28 Agustus 2026, akan selalu dikenang sebagai hari di mana "Sang Raja untuk Rakyat" pulang untuk selamanya.


🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru