Harga Sebuah Kemerdekaan dan Peran Ulama-Santri
Di sisi lain, naskah khutbah ini juga membawa kita menyelami sejarah kelam sekaligus heroik bangsa Indonesia. Kemerdekaan yang kita hirup udaranya hari ini bukanlah hadiah cuma-cuma dari penjajah. Ia ditebus dengan darah, air mata, dan doa-doa malam yang tak terputus dari para ulama, santri, kyai, dan pahlawan tak dikenal.
Dalam kacamata Nahdlatul Ulama, peran ulama dan santri dalam kemerdekaan Indonesia adalah sebuah keniscayaan sejarah. Mulai dari pembentukan Komite Nasional Indonesia, hingga Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 yang melahirkan Hari Pahlawan, para santri adalah garda terdepan pertahanan bangsa.
Oleh karena itu, KH Sriyanto menekankan bahwa mengisi kemerdekaan bukan sekadar mengikuti upacara atau lomba Agustusan. Kemerdekaan sejati adalah kebebasan untuk melakukan kebaikan, kebebasan menuntut ilmu, dan kebebasan beribadah dengan tenteram.
Namun, ada peringatan keras yang disampaikan beliau merujuk pada QS. Al-Qashash ayat 77. Jangan sampai kemerdekaan yang mahal ini justru diisi dengan "kerusakan di muka bumi" berupa korupsi yang merampas hak rakyat, ujaran kebencian yang memecah belah, fitnah di media sosial, serta kemaksiatan yang mengundang murka Allah.
Titik Temu Dua Momentum Agung
Apa yang terjadi ketika Bulan Maulid berpelukan dengan Momentum Kemerdekaan? KH Sriyanto merumuskan sebuah sintesis yang indah: Rasulullah ﷺ mengajarkan persaudaraan dan persatuan, sedangkan kemerdekaan mengingatkan kita pada rasa syukur dan tanggung jawab.
Seorang Muslim yang sejati, menurut khutbah ini, haruslah menjadi warga bangsa yang bermanfaat.
- Jika ada perselisihan, ia hadir sebagai pendamai.
- Jika ada kesusahan, ia hadir sebagai penolong.
- Jika ada kebodohan, ia hadir sebagai pendidik.
- Jika ada kemiskinan, ia hadir dengan kepedulian sosial.