Ekspor Album K-pop ke AS Melonjak
Di sisi lain, ekspor album K-pop ke Amerika Serikat pada paruh pertama tahun ini mencapai 74,12 juta dolar AS, melampaui China (61,18 juta) dan Jepang (45,61 juta).
Dengan demikian, AS menjadi pasar ekspor album K-pop terbesar di dunia, menggeser Jepang dan China yang selama ini mendominasi.
Pertumbuhan ekspor ke AS bahkan jauh lebih tinggi dibandingkan kimchi.
Ekspor kimchi ke AS naik 12,9 persen menjadi 24,60 juta dolar AS, sementara album K-pop melonjak 281 persen dari 19,45 juta menjadi 74,12 juta dolar AS.
Rilisan album baru BTS disebut menjadi faktor utama di balik ledakan pertumbuhan tersebut.
Perubahan peta ekspor juga terlihat di Eropa.
Ekspor ke Jerman melonjak lebih dari enam kali lipat, dari 3,43 juta dolar AS menjadi 21,17 juta dolar AS, melampaui Taiwan yang sebelumnya menempati peringkat keempat.
Jerman pun menjadi pasar K-pop baru yang utama di Eropa, jauh di atas Belanda (4,32 juta) dan Inggris (3,32 juta).
Lee Yu-jin, mantan koresponden Berlin untuk Korea Foundation for International Cultural Exchange, mengatakan bahwa media dan industri musik Jerman kini memperlakukan K-pop secara serius.
Padahal, lima tahun lalu, DJ radio publik Jerman Bayern 3, Matthias Matuschik, sempat dituduh rasis setelah menyamakan BTS dengan SARS.
Kini, harian Jerman Frankfurter Allgemeine Zeitung bahkan menyebut Frankfurt sebagai "ibu kota K-pop Jerman".
Para penggemar paruh baya dengan waktu luang dan pendapatan yang cukup untuk bepergian menonton konser disebut menjadi alasan bertambah tuanya basis penggemar K-pop.
Grace Kao, profesor sosiologi di Universitas Yale, mengatakan bahwa semakin banyak penggemar paruh baya yang memiliki waktu dan uang untuk bepergian menonton konser.
Vicki Ronn, profesor bahasa Inggris di Friends University, memberikan putranya yang berusia 40-an album vinyl solo J-Hope "Jack in the Box", yang kemudian membuatnya menjadi penggemar BTS.