"Ada spesies seperti burung bangau tongtong, kemudian ada juga burung elang kelelawar, yang terakhir terlihat itu tahun 2022 sebenarnya.
Kemudian ada banyak sekali berbagai jenis reptil, ada juga ular, yang semua adalah indikasi bahwa ini adalah ekosistem yang sehat," lanjutnya.
"Dan maka dari itu aku bisa sangat mengerti bahwa para dosen dan para mahasiswa di sini memiliki kelekatan yang khusus pada area ini.
Dan mereka luar biasa sekali effort-nya dalam usaha memadamkan."
Medan yang Menantang
Sherina menilai medan pemadaman kali ini lebih sulit dibandingkan saat melakukan rewetting atau pembasahan kembali di kawasan Hiu Putih dan Taman Wisata Alam Galeget Tiawu.
"Jujur buat aku ini adalah terrain yang lebih challenging lagi, karena banyak sekali batang-batang kayu yang di atas gambut yang sangat panas," beber Sherina.
"Jadi setiap kali kita melangkah ke depan, kita harus mendinginkan dulu karena masih sangat aktif baranya. Lebih panas lagi."
Upaya pemadaman tidak selalu berakhir ketika api terlihat padam. Ia memahami mengapa proses tersebut dapat menguras tenaga dan mental para relawan.
"Being here, aku merasakan sendiri betapa susahnya memadamkan api. Gambut itu sangat mudah terbakar.
Kemudian yang kita padamkan nyala lagi. Kita ke kanan padamkan yang kanan, yang kiri nyala lagi," kata Sherina.
Sherina berharap pengalaman yang ia lihat dan rasakan langsung di lapangan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kondisi kebakaran hutan di Kalimantan Tengah.
"Bantuan kalian matters untuk kita semua. Mari kita pulihkan hutan milik kita semua ini bersama-sama," pungkas Sherina.
Sementara itu, menurut laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Tengah per 3 September 2026 pukul 18.00 WIB, tercatat ada 2.864 titik hotspot, 70 kejadian karhutla, dengan luas lahan terbakar mencapai 195,91 hektar.
Angka tersebut turun dari catatan sehari sebelumnya pada 2 September 2026, yang mencatat hotspot di 4.282 titik dan 74 kejadian karhutla.
Angka hotspot pada 3 September juga lebih kecil dari 1 September yang mencapai 3.905 titik, tetapi kejadian karhutla pada 3 September lebih tinggi dari 1 September yang mencapai 50 kejadian.
"Penanganan didukung 10.700 personel gabungan, 6 unit helikopter, serta 1 unit pesawat OMC/Patroli," tulis mereka.