Wakil Presiden Filipina Sara Duterte membayar jaminan pada Sabtu (5/9) setelah perintah penangkapannya diterbitkan sehari sebelumnya.
Ia menghadapi tuduhan publik yang mengancam akan membunuh Presiden Ferdinand Marcos Jr. dan dua orang lainnya.
Duterte muncul dengan pakaian hitam dari Pengadilan Regional Quezon City di Metro Manila. Ia menghibur para pendukungnya dan menunjukkan perintah pengadilan yang mencabut surat penangkapan yang diterbitkan Jumat.
Wakil presiden yang membantah tuduhan itu meminta wartawan untuk mengelilinginya saat menuju mobil karena merasa tidak aman.
"Jika memungkinkan, tolong ikuti saya, karena saya tidak merasa aman dengan semua personel polisi yang melecehkan orang-orang di rumah saya, melecehkan saya sejak 2023," ujarnya.
Salah satu pengacaranya, Paul Lawrence Lim, mengatakan staf pengadilan mengambil sidik jari Duterte dan ia membayar jaminan 360.000 peso (sekitar Rp 1,5 juta) untuk tiga tuduhan ancaman berat.
Setelah perintah penangkapan diterbitkan Jumat, Lim mengatakan Duterte akan melawan tuduhan tersebut. "Dia tidak berniat menghindari hukum dan akan terus menggunakan semua upaya hukumnya," katanya dalam pernyataan.
Kasus Berawal dari Komentar dalam Konferensi Pers Daring
Kasus ini dipandang sebagai bagian dari pertarungan politik berisiko tinggi antara Duterte dan Marcos.
Jika terbukti bersalah, Duterte dapat didiskualifikasi secara permanen dari jabatan publik dan dilarang mencalonkan diri sebagai presiden pada 2028.
Tuduhan tersebut berasal dari dugaan ancaman yang dibuat Duterte (48) selama konferensi pers daring pada 2024.
Ia mengatakan akan memerintahkan pembunuhan Marcos, istrinya, dan Ketua DPR saat itu Martin Romualdez jika ia sendiri dibunuh karena perselisihan politik mereka meningkat.
Wakil presiden memperingatkan bahwa ancamannya bukan lelucon.
