Dunia kehilangan dua ikon perempuan dalam waktu berdekatan.
Gloria Steinem dan Dolly Parton wafat hanya berselang delapan hari, meninggalkan duka mendalam bagi banyak orang, terutama para feminis.
Keduanya mewakili dua versi feminisme yang berbeda.
Steinem adalah aktivis politik yang vokal, sedangkan Parton menolak label feminis namun menunjukkan praktiknya melalui musik dan sikapnya.
Dua Jalur Feminisme yang Berbeda
Steinem dikenal sebagai jurnalis yang menyamar sebagai kelinci Playboy untuk mengungkap eksploitasi, mendirikan Ms. Magazine, dan mendorong perempuan untuk saling mendukung.
Parton, putri Selatan yang glamor, memilih tidak berpolitik dan tidak menyebut dirinya feminis.
Meski berbeda, Steinem telah lama melihat kesamaan di antara mereka.
Pada 1987, Ms. Magazine menobatkan Parton sebagai salah satu 'Wanita Tahun Ini', dan Steinem menulis bahwa jika feminisme berarti menemukan kekuatan unik dan membantu perempuan lain, Parton telah melakukan keduanya.
Banyak yang merasakan keduanya saling melengkapi.
Swati Narayan, dalam kolomnya, menulis bahwa keduanya percaya pada kemampuan perempuan untuk menentukan diri sendiri, membuat pilihan, dan membentuk dunia.
Penolakan Parton terhadap Label Feminis
Parton secara eksplisit menolak label feminis. Dalam wawancara 2019, ia berkata, 'Tidak, saya tidak' ketika ditanya apakah ia feminis.
Ia khawatir label itu berkonotasi ekstrem dan membenci laki-laki.
Meski begitu, Parton mengakui dunia didominasi laki-laki dan karyanya menyoroti kesulitan perempuan.
Lagu '9 to 5' mendukung kesetaraan upah, dan 'Just Because I'm a Woman' berbicara tentang standar ganda.
Ia juga menulis tentang kehamilan remaja, aborsi, dan adopsi dalam 'Down from Dover'. Namun, ia memilih untuk tidak berbicara politik agar tidak kehilangan penggemar dari berbagai kalangan.