unique visitors counter
⌂ Beranda News Waspada! Abu Erupsi Anak Krakatau Mengandung Silika, Ini Imbauan Pakar
News

Waspada! Abu Erupsi Anak Krakatau Mengandung Silika, Ini Imbauan Pakar

Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau
A A Ukuran Teks16px

Jakarta – Sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda dilaporkan telah menjangkau wilayah Jabodetabek.

Pengamat lingkungan Prof. Supriatna menjelaskan, karakter Anak Krakatau sebagai gunung api tipe strato menjadi penyebab sebaran material erupsi yang luas.

Gunung tipe ini mampu memuntahkan material piroklastik berupa debu dan abu halus hingga ketinggian puluhan kilometer.

"Fenomena ini biasa terjadi pada tipe gunung api strato yang memuntahkan piroklastik sampai puluhan kilometer.

Ditambah dengan dorongan arah angin, abu vulkanik dapat menyebar sangat jauh dari pusat erupsi," kata Supriatna, Minggu (6/9/2026).

Bahaya Partikel Silika

Supriatna menambahkan, partikel abu vulkanik mengandung senyawa kimia berbahaya seperti asam dan kristal silika mikroskopis.

Kandungan tersebut dapat memicu iritasi berat pada organ pernapasan, jaringan mata, hingga kesehatan kulit jika terpapar langsung tanpa pelindung.

Durasi berhentinya hujan abu sepenuhnya bergantung pada dinamika tingkat aktivitas magma di dalam perut gunung api.

Sebagai gambaran, saat letusan Gunung Tambora, jangkauan material abu mampu terbang hingga menyeberangi benua menuju Australia.

Untuk meminimalkan dampak buruk partikel asam dan silika, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Selalu kenakan masker pelindung wajah dan kacamata saat beraktivitas di area terbuka.

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau tercatat masih berlangsung hingga hari ini, Minggu (6/9/2026).

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM melaporkan getaran erupsi berkali-kali terekam di instrumen seismograf.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi adanya dua klaster utama sebaran abu vulkanik.

Sebaran abu membumbung hingga ketinggian 20.000 kaki dan bergerak melingkupi wilayah Lampung, Banten, Jawa Barat, hingga sebagian Jakarta dan sekitarnya.

Hingga kini, status aktivitas Gunung Anak Krakatau masih dipertahankan pada Level III (Siaga).

PVMBG dan Badan Geologi melarang masyarakat, wisatawan, maupun nelayan mendekati atau beraktivitas dalam radius bahaya 3 km dari kawah aktif Selat Sunda.

📰 Update Terbaru