Gunung Anak Krakatau di Indonesia meletus pada Minggu dini hari, memaksa pembatalan seluruh penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta dan mengganggu sejumlah bandara domestik lainnya.
Abu vulkanik menyebar ke sebagian wilayah Indonesia barat, memicu penutupan wilayah udara di beberapa bandara.
Penerbangan Terdampak dan Penumpang Terlantar
Badan Geologi Indonesia melaporkan gunung berapi di Selat Sunda ini menunjukkan aktivitas sejak Jumat sebelum meletus selama 30 detik pada pukul 03.53 WIB.
Rekaman kamera sirkuit tertutup memperlihatkan semburan lava dari kawah gunung tersebut.
Hingga Minggu sore, penutupan ini memengaruhi 516 pergerakan penerbangan, dengan 202 di antaranya di Soekarno-Hatta saja, yang berdampak pada sekitar 22.800 penumpang.
Bandara tersebut diperintahkan tutup hingga setidaknya pukul 17.30 WIB.
AirNav Indonesia menutup wilayah udara di sekitar Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma di Jakarta, serta empat bandara lain, termasuk Bandara Radin Inten II di Lampung.
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menyatakan terus memantau dampak letusan terhadap perjalanan udara dan berkoordinasi dengan maskapai, operator bandara, layanan navigasi udara, dan badan meteorologi.
“Keselamatan tetap menjadi prioritas utama kami dalam setiap keputusan operasional,” ujar Lukman F. Laisa, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, dalam pernyataannya.
Ia memperingatkan jadwal penerbangan dapat mengalami gangguan beruntun yang memengaruhi rotasi pesawat, ketersediaan armada, dan kapasitas terminal saat maskapai berupaya memulihkan operasi.
Letusan ini juga mengganggu layanan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Bali dan di Medan.
Awan Abu dan Aktivitas Vulkanik
Badan Vulkanologi Indonesia dan Darwin Volcanic Ash Advisory Centre mengidentifikasi dua awan abu menggunakan citra satelit.
