Satu gumpalan mencapai ketinggian 20.000 kaki (6.100 meter) dan melayang ke timur laut melintasi Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya.
Awan kedua mencapai 50.000 kaki (15.200 meter) dan menyebar ke sebagian wilayah Banten, Lampung, Bengkulu, selat Sunda bagian selatan, dan sebagian Samudra Hindia di barat Sumatra.
Kepala Badan Geologi Indonesia, Lana Saria, mengatakan aktivitas Anak Krakatau meningkat sejak Juli, dan letusan Minggu adalah yang terkuat selama periode gejolak saat ini.
Letusan berulang mengindikasikan pasokan magma dan gas vulkanik yang terus berlanjut di bawah gunung, namun pihak berwenang tidak dapat memprediksi apakah letusan lebih besar akan terjadi.
“Kami terus mengevaluasi perkembangan gunung berdasarkan semua data pemantauan, bukan hanya jumlah letusan atau tinggi kolom abu,” kata Saria dalam konferensi video.
Ia menyebut bahaya utama meliputi abu vulkanik, konsentrasi gas tinggi, dan lontaran batu panas serta material lain di sekitar area kawah.
Anak Krakatau, yang berarti “anak dari Krakatau,” adalah keturunan dari Krakatau yang terkenal, yang letusan dahsyatnya pada 1883 memicu pendinginan global.
Letusan pada 2018 memicu tsunami yang menewaskan sedikitnya 430 orang di Sumatra dan Jawa.
Para peneliti percaya aktivitas vulkanik memicu longsoran bawah laut dan menyebabkan sebagian besar lereng barat daya Anak Krakatau runtuh, yang memindahkan volume air besar.
Para ilmuwan menyatakan pulau Anak Krakatau hanya sekitar seperempat dari ukuran aslinya setelah letusan tersebut.